Aku adalah seorang wanita yang lemah yang tak punya keahlian apapun selain menanam padi di sawah. Maka itulah aku bekerja sebagai petani di sawah seorang juragan kaya. Andai saja aku punya keahlian pekerjaan kantorang atau saham, mungkin aku bisa bekerja di sebuah kantor yang tak main besarnya seperti tetangga ku. Leftha begitulah perempuan kaya itu di sebut.
Sebelum orang tuaku meninggal, mereka pernah berpesan “jangan lupa beribadah kepada allah. Berdoalah atas ampunan dan lindungannya. Dan jangan lupakan allah dikala kau susah. Karena Allah itu maha adil” satu kata yang terlintas di benakku?? ADIL?? Apa kah itu yang dinamakan adil??
Besoknya, pagi-pagi sekali aku mengambil topi tani ku dan segera pergi bekerja di tempat yang penuh lumpur. Ku berjalan tanpa menggunakan alas kakiku. Matahari memang belum menampakkan wajahnya kepadaku. Tapi, untuk memenuhi kebutuhan makanan yang dianggap kurang untuk satu hari, menunggu matahari bukanlah pekerjaanku.
Pagipun datang. Cahayanya kini telah terasa. Bisa dikatakan sekarang adalah pukul 9.00 pagi. Kulihat di hadapanku ada rumah besar yang sangat mewah milik Leftha. Di depannya terpanmpang 2 buah mobil. Kalau tidak salah, mobil itu bermerek Toyota Rush biru dan juga Honda Jazz merah. Mobil itu terlihat sangat elit. Aku langsung berfikir??
“tuhan sungguh tak adil! Aku yang bekerja keras setiap hari hanya dapat hasil yang pas-pas-an atau dapat dikatakan kurang. Sedangkan Letha, pergi jam 11 pagi dan pulang jam 3 sore bisa mendapat gaji yang tak tanggung besarnya”
Hari telah semakin panas. Ku lihat letha bertamasya ke kantornya dengan mobil mewahnya. Aku memang tidak tahu dimana dia bekerja. Yang aku tahu adalah gaji yang di dapatkannya sangatlah besar. Apa mungkin gajinya mencapai Rp. 10.000.000 (10 juta rupiah)? Hmm.. jika benar, beda 3 nol dengan gajiku yang hanya Rp.10.000 (sepuluh ribu rupiah). Mudah sekali baginya untuk mencari uang sebesar itu. dugaan ku memang benar. Allah itu memang tidak adil.
1 jam telah berlalu. Mungkin sekarang tlah menunjukkan pukul 3 sore. Buktinya adalah mobil kecil merah yang digunakannya telah kembali. Saat letha keluar dari mobil itu, diriku merasa sangatlah Iri. Ingin rasanya aku hidup seperti letha yang semuanya serba berkecukupan. Berbeda 1800 dengan kehidupanku yang semuanya serba tidak berkcukupan.
Mataharipun telah mulai menghilang. Inilah saatnya aku untuk pulang serta beristirahat setelah bekerja banting tulang yang tak tanggung lamanya. “allahu akbar..allahu akbar..” azan magrib telah terdengar. Saatnya aku untuk mengambil air wudhu untuk shalat. Lagi-lagi dengan sejadah using yang sebenarnya sudah tak layak pakai lagi serta kain sarung yang sudah pendek yang tak layak digunakan untuk shalat. Lalu, aku pun berpikir, “apakah letha juga shalat?? Dia kan orang yang terkenal malas beribadah! Tapi, mengapa tuhan tetap memberikan rezeki yang berlimpah padanya? Sedangkan aku yang selalu shalat 5 waktu saja tidak pernah diberikan nikmat yang banyak!” ucapku menggerutu dalam hati.
dulu aku memang percaya bahwa allah itu adil. Tapi, setelah dia merebut semua kebahagiaan ku, aku tak pernah merasakan keadilan itu lagi. Yang aku rasakan adalah nasib seorang petani yang makin tertindas akan ketidak adilan tuhannya.
Malam telah datang. Mataku mulai terasa berat. Sulit rasanya untuk dibuka 1 mili meter pun. Alhasil, aku tertidur di lantai yang beralaskan kain yang telah bolong-bolong. Hujan pun datang, akupun terbangun setelah tetesan air hujan mengenai pipiku. Ku tatap lekat-lekat atap yang bolong itu. ku renungi nasib malang ku itu. lagi-lagi terfikir “tuhan itu tak adil” tak ku abaikan hawa dingin yang ku rasakan, ku ambil kain panjang pengganti selimut, lalu ku segera tidur dengan nyenyaknya.
Kuku ruyuk….. Bunyi ayang berkokok pun dapat di dengar. Itu menandakan bahwa hari telah pagi. Lagi-lagi aku menjalankan aktifitas rutinku seperti biasa. Saat aku telah berada di sawah, ada sesuatu yang berbeda terjadi sekitar jam 12.00. Letha yang terkenal pelit pun entah mengapa mengajakku untuk pergi ke kota. Kesempatan itu tak ku sia-siakan. Aku menyetujui ajakannya itu. lalu aku segera pulang untuk mengganti bajuku yang baunya minta ampun. Lalu, ku gunakan lah pakaian terbaikku.
Akhirnya, ku bukan pintu mobil besar bewarna perak itu. Dengan segera, aku langsung duduk di kursi yang telah disediakan. Kursinya sangat empuk. Ac nya sangat dingin. Hmm… Benar-benar terasa hidup mewah ala orang kaya. Di tengah perjalanan, aku berbincang-bincang dengan Letha. Tak ku sangka, ternyata Letha adalah anak yang baik, Ulet, rajin, pintar serta mempunyai paras yang cantik. Pantas saja kalau dia bisa menjadi kaya. Tapi, ku fikir-fikir lagi. Aku rasa, aku bekerja lebih keras dari letha. Tapi kenapa aku tidak sekaya letha?? Apa aku tak pinta?? Tidak, aku punya keahlian bertani! Apa mungkin karena paras ku yang jelek makanya aku tidak bisa bekerja di kantor mewah seperti letha? Ya! Mungkin itulah penyebabnya. Lalu ku katakan lagi, “allah tidak adil”
Tapi semuanya berubah saat mobil truk besar yang berlawanan arah datang dengan kecepatan yang sangat kencang sehingga mobil yang kami kenakan tidak dapat menghindar. “Kyaaaaaaa!!!!!!!!!” itulah bunyi teriakan yang sama-sama kita ucapkan. “allahu akbar” ucapku lantang. Da saat itu, aku benar-benar membutuhkan pertolongan allah. Aku kaku. Aku lemah. Aku tak berdaya dan tak sebanding dengan mu maha pencipta. Jadi ku mohon, selamatkanlah aku pada saat ini. Aku masi ingin hidup yang allah!!!!! Ucapku keras dalam hati.
Prank!!!! Bunyi keras itu dapat kami dengar semua. Sopir rem mendadak, kami cemas akan nasib kami selanjutnya. Aku merasa melayang.. Aku tak tahu berada di mana. Aku melihat tubuhku yang berlumuran darah. Sontak teriakanku sangatlah keras. Aku berada di mobl Toyota rush yang berwarna perak itu. ku lihat orang yang berada di mobil itu. tak satupun dari mereka yang mengeluarkan nafas. Tak satupun diantara mreka yang masih hidup, kecuali aku. Aku berada di antara mayat-mayat yang berbau busuk?? Tanyaku heran.
“allahu akbar” air mataku keluar sangat deras setelah menyadari bahwa aku masih hidup. Aku tak percaya ini bisa terjadi. Aku tidak mendapatkan luka yang parah. Hanya saja tanganku tergores sedikit akibat serpihan besi. Mobil itu sangan hancur. Tidak berbentuk lagi. Aku hidup! Aku selamat! Aku tidak mati! Ucapku penuh bangga dalam hati.
“allah maha besar! Terima kasih engkau masih memberiku hidup yang ke dua. Tak akan ku sia-siakan hidup ku ini. hamba berjanji padamu ya allah. Maafkan kesalahan hamba ya allah. Mohon ampun aku padamu ya allah atas perkataanku yang mengatakan engkau tidak adil. Maafkan hamba ya allah.” Ucapku dalam hati yang dibasahi oleh air mata.
Letha, sopir serta mobil mewahnya hancur gara-gara kecelakaan tersebut. Aku bisa selamat tanpa ada luka yang parah. Sejak kejadian itu, aku baru menyadari bahwa allah itu sangatlah adil. Aku masih bisa menikmati hidupku lagi. Hidup ke dua ku.