Laman

Sabtu, 25 Juni 2011

best think that i love

i have tought about the best thing
i have wrote the good story about my live
i have saw that fantastic phenomen
i have life in this earth

no more one talk to me that i'm loser
no more one talt to me thati'm distroyer
everyone talk to me that i'm the wealht
that hide under the land

i feel better than before
i love my life
because of that i wanna life for always

thanks god you gave me the good think in my life
thanks for ya
that have gave me the best thing that i love

i feel my soul
free without load
i feel happy
but i was death

i wanna life back
to see ya
to find ya
that have change my life to be better

waktu terindah

sebuah waktu yang terindah
waktu-waktu yang berlalu
andai saja bisa terulang
perpisahan tak kan terjadi di hidupku

perpisahan memang menyedihkan
tapi hanya tuk sementara

begitu yang kita alami
waktu yang kita lalui penuh canda tawa
dan canda tawa

yang tak mungkin akan terulang
tak mungkin akan terulang
di hidupku
di hidupku

kini air mata mengalir dipipiku
terasa sangat menyedihkan
perpisahan pasti kan terjadi
tapi tak tuk selamanya

seakan berubah

sore yang melelahkan
akan ingin ku ulang
dan entah mengapa bisa
ku tak tau akan dunia

diwaktu ku sedih dia selalu ada
menghiburku dengan senyuman manisnya
dan kini mengapa bisa terjadi
sikapnya berubah seakan ku tak kenal dia

ku ingin dia kembali
seperti masa lalu
yang slalu ada di sisiku
kapan dan apapun terjadi

ku tak pernah bisa membencinya
masih melekat rasa persahabatan
tak akan hilang walaupun kau berubah
tapi ku kan slalu buatmu kembali sempurna

aku tak berhasil merubah sikapnya
tapi ku kan selalu tetap berusaha
walalu sangat sulit untuk melakukan
tapi kakn berusaha demi persahabatan kita..

Rabu, 22 Juni 2011

hari terakhirku..

"INI ADALAH HARI TERAKHIRKU, BUKAN HARI TERAKHIR UNTUK HIDUP, TAPI HARI TERAKHIR UNTUK MEMIJAKI TEMPAT INI."

"INI ADALAH HARI TERAKHIRKU, BUKAN HARI TERAKHIR UNTUK BERNAFAS, TAPI HARI TERAKHIR UNTUK MELIHAT WAJAH MEREKA"


Kenalkan, aku Caroline Aftar. aku ingin bercerita tentang kisah hidupku dimana aku harus mencoba untuk meninggalkan segalanya, segal kenangan yang tak ingin ku tinggalkan.

hampir genap 2 tahun aku mengenal mereka, aku mengetahui semua sifat mereka dan bahkan telah berteman akrab dengan mereka. tapi, karena hal ini, aku harus berusaha untuk meninggalkan mereka.

hari itu..

aku mendapat kabar bahwa aku akan pindah dari sekolah yang sangat ku cinta. sekolah yang ku cinta dan tempat yang sangat berharga.tempat aku berbagi canda tawa dengan mereka, tempat aku menemukan cinta dan mendapatkan banyak ilmu. tempat yang bisa dikatakan sangat bersejarah.

tempat ku untuk berbagi, aku harus tinggalkan.

"apa? adek mau pindah?" ujar temanku yang mendengar ceritaku. usianya cuma beda beberapa bulan denganku, dan aku lebih tua darinya, tapi karena kebiasaan ku manggil kakak, jadi dia memanggilku adek.

"iya kak, dek juga gak mau, tapi ya mau gimana lagi?! dek nurut aja kak" jawabku pelan

dunia diam sejenak dan tak berputar. begitu juga aku dan kak Mora. tiba-tiba,

"dek, jangan lupain kakak ntar ya!" dia langsung memelukku dan meneteskan beberapa air mata.

aku mencoba untuk menenangkan kak Mora, tapi sia-sia. kami larut dalam tangis.

pada saat itu, aku merasa sakit hati dengan seseorang yang sangat ku cinta dan ku percaya, jadi ku ingin menjauh darinya dan ku ingin untuk melupakannya. hal itu membuat kuat tekatku untuk menjauh darinya.

tapi, aku ingin mencintai seseorang terakhir dalam hidupku untuk di sekolah itu. telah lama aku memendamnya tapi sulit untuk aku ucap.

tiba-tiba, handphone ku berdering, saat ku lihat terdapat sebuah pesan dari seseorang yang ku incar, pesan itu berisi

"lin, kamu betulan mu pindah? apa kamu yakin dengan keputusan kamu? apa kamu nggak tau kalo kita semua sedih kalau kamu nggak ada? apa kamu tau kalo kamu berharga buat kita?"

hal itu membuat aku berfikir 2x. tapi percuma. aku tak menemukan jawaban untuk membantah. aku hanya bisa menuruti keinginan prang tuaku.

mendengar itu, semua teman-teman ku menjadi sedih. mereka menatapi ku dengan wajah yang tampak memintaku untuk berfikir lagi, aku cuma bisa berkata,

"maaf semua, keputusanku sudah bulat. tahun depan, aku tak akan di sini lagi"
"tapi lin.."
"maaf ya fah, itu udah gak bisa di ganti. aku tau apa yang kalian rasakan, tapi aku tak bisa berbuat banyak. tapi aku janji, aku akan menemui kalian di lain waktu! aku janji!!"

besoknya adalah hari penerimaan rapor, itu adalah hari terakhirku untuk berada di sini, teman-teman mengadakan acara sederhana yang sangat berkesan untukku. ada yang meneraktir ku es krim dan memberikan ku hadiah. aku hanya bisa membalas dengan secarik surat

"Aku sangat senang berada di sini. tapi, hal ini tak bisa membuatku bertahan lebih lama. aku tak ingin pisah dengan kalian semua, tidak kah kau tahu bahwa kaluan sngat berharga??

Di tempat ini, aku mendapat banyak teman, aku tahu setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. tapi, apa gunanya bertemu bila akan di pisahkan? apa gunanya aku mengenal dan bertemu kalian bila akan seperti ini?

Ini adalah hari terakhirku untuk berada di sini dan untuk menatap wajah kalian. jangan sedih, aku kan kembali. aku tak akan jauh dari kalian. aku tak ingin berpisah dengan kalian.

Ini adalah hari terakhirku untuk menginjakkan kaki di sini dan jangan lupakan aku. ku tak akan lupakan kalian. walau kita jauh, hatiku ada di samping kalian."


mungkin ini adalah surat terakhirku untuk mereka. selamat tinggal semua...

Rabu, 15 Juni 2011

aku benci diri dan hidupku

pagi ini terik sang surya sangat menyilaukan. aku tak bisa berlaku apa-apa. hanya bisa menanmpung tangan dan duduk di trotoar menanti belas kasihan seseorang yang ingin memberikan ku sedikit recehan yang ada di kantung mereka. sebenarnya, bukan ini lah pekerjaan yang ku inginkan. sukses, cantik, kaya, dan bisa membeli apa saja yang diinginkan, kriteria itulah yang aku inginkan. tapi, gempa dan tsunami aceh itu telah menggalaukan harapanku. dulu, aku adalah bunga desa yang terkenal di tempat tinggak ku, kini aku orang yang paling jelek di antara mereka. bangunan rumahku telah melumpuhkan kaki dan merusak paras cantikku.

kini, setiap harinya aku harus "ngesot" kurang lebih 1 km dari istana ku.

suatu ketika, aku melihat seseorang pria tampan yang duduk di sebelahku. pria itu sangat ramah. menyapa ku dengan senyum lembutnya

"pagi ini panas ya, tak seperti biasa" sapa ramah pria itu

semulanya aku hanya terdiam. tak pernah ada sebelumnya pria tampan yang mau menyapa ku ramah bila melihat wajahku sekarang. aku beranikan diriku untuk menjawab sapaan yang myngkin hanya sekali setelah wajahku berubah.

"i..iya.. panas sekali" jawab ku sedikit gugup.

lalu pria itu pergi meninggalkan aku. aku sedih sekali. karena jarang ada yang menyapaku. bebrapa menit kemudian, pria itu datang dengan membawa minuman

"kalau panas, pasti kamu haus. iya kan?" tanyanya dengan senyum melebar, dan tangannya memberi ku minuman yang sudah lama tak ku minum. bisa di taksir harga 10.000 satu botolnya.

"untuk ku?" tanya ku meyakinkannya

"tentu saja. kalo tidak, untuk siapa?" jawabnya sambil tertawa

aku merasa malu dan tidak mengambil minuman itu karena ku merasa minuman itu terlalu mahal untukku. pria itu menatap wajahku lekat-lekat

"ayo, ambillah. aku sengaja membelikan ini untukmu. aku mohon kamu mau terima" pintanya dengan penuh harap.

"tapi,," sebelum melanjutkan kalimatku, dengan tegas, dia menyambung pembicaraan

"ayolah! aku mohon" harapnya

aku hanya bisa meraih botol itu sembari bercakap-cakap. walaupun baru kenal, tapi kami sangatlah akrab.

"astaga zik, udah jam 12. aku harus ke kantor. ada miting jam 1. dadah! bertemu lagi ya besok di sini" lalu dia segera pergi.

2 jam yang sangat menyenangkan dalam hidupku. setelah bertemu dengannya, aku sangat bahagia, setelah dia pergi, aku ingin menangis. apakah aku? ah! tidak mungkin. aku dengannya??? seperti langit siang dan malam yang tak akan pernah menyatu. sepertinya dia orang sibuk. terlihat jelas dari saku bajunya yang terdapat sebuah surat resmi, mata yang tampak sedikit layu, mungkin karena dia begadang. mata merah seperti sehabis mengetik lama di depan layak komputer lipatnya.

aku tahu siapa namanya. aku tahu sekarang bahwa dia bernama gyoma. nama yang bagus untuk orang kaya seperti dia. sedangkan aku, zika. nama yang sangat jelek. wajahnya, astaga!!!!!! tampan sekali. tadi dia mengenakan kemeja biru dengan dasi abu-abu dan celana jeans hitam. dia tampak menjinjing jas abu-abu yang tampoak sangat keren bila dia menggunakannya.

seminggu kami selalu bertremu seperti itu. akhirnya dia mengetahui latar belakang ku. kami sudah mengenal jauh satu sama lain.

"gyo, besok mau ya datang ke sini sekitar jam 5 sore. aku ingin mengatakan hal penting" tegas ku sambil dengan yakin untuk mengungkapkannya.
"aku usahakan ya" ucapnya tampak ragu, tapi masih sempat tersenyum ramah.

besoknya, dengan mengenakan pakaian terbaikku, meskipun tak terlalu bagus dan aku berdandan rapi, aku menuju tempat biasa dan menunggunya. 3 jam sudah aku termanggu menatap jalanan dan menunggu kehadirannya. tapi, tetap tidak ada. aku mulai putus asa. mataku sudah bengkak menahan air mata. tapi, harapan ku tetap saja hancur. dengan rasa kecewa, aku mencoba "ngesot" ke rumah ku. tapi, aku berniat untuk berhenti sebentar untuk duduk di sungai sambil menanti bintang.

tapi, saat diperjalanan, aku melihat seorang pria tampan yang sedang duduk berdampingan wanita cantik di kursi pelaminan. hal yang sangat membuatku menngis adalah dimana aku melihat bahwa pria itu adalah GYOMA. ternyata, dia melupakan janji nya kepadaku. aku merasa sangat kecewa. maku menyadari bahwa aku hanyalah wanita jelek dan bodoh yang berharap dapat bersama pangeran. aku sudah lupa diri siapa aku? manusia bodoh.

AKU BENCI DIRI DAN HIDUPKU!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

ku ucap keras saat aku hanya sendiri menatap bintang di sungai yang sangat indah. aku segera berfikir bahwa surga itu indah. aku menceritakan semua kejadian itu pada bintang, dan bintang tampak berkedip sambari berkata "sabar!!" tapi, menurutku,,?

ku ambil pisau lipat yang terdapat di selala-sela bajuku, lalu aku telah terbang dan bebas. sekarang aku tak mungkin bisa bertemu dia. mungkin aku akan masuk koran yang akan dibacanya esok hari.