Laman

Sabtu, 17 Desember 2011

Hariku berakhir di diary


 Minggu, 27 november 2011
Bukalah hari yang menyenang kan bagikku. Tapi mungkin malam ini akan menjadi malam yang membahagiakan untuk ku. Aku berjanji akan menjadi orang pertama yang membirikannya ucapan selamat. Malam ini dia akan menelfonku. Kami akan banyak berbincang-bincang mengenai sekolah dan Pra UN esok. Semoga dia senang dengan ucapan yang ku beri

Senin, 28 november 2011
Aku berhasil. Tepat jam 0 tadi pagi aku mengucapkan ucapan selamat padanya sebagai orang yang pertama. Dia tampak senang dan menunggu hadiah dariku. Aku hanya bisa memberikan hadiah itu saat ku berada di sampingnya dan mungkin itu beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan lagi. Aku tak peduli berapa lama aku harus menunggu untuk bertemu dengannya, tapi aku akan memberikan hadiah yang sangat dia inginkan.
Ujian hari ini tidak begitu buruk. Mungkin karena dukungan darinya.

Selasa, 29 november 2011
Hari ini ujian ku sukses. Tapi aku masih seperti biasa. Selalu menangis karena tak ada satupun yang menghargai ku. Mereka selalu saja menghinaku. Tetapi pada saat ujian berlangsung, mereka begitu baik kepadaku hanya karena sebuah jawaban. Mereka tak pernah mengetahui perasaan ku. Akankah mereka seperti ini untuk selamanya? Apa aku memang tak pantas untuk dihargai? Apa karena postur tubuh ku seperti anak-anak, jadi mereka tidak menghargaiku dan menganggap ku hanyalah anak hingusan yang tak bisa apa-apa?

Kamis, 1 desember 2011
Maaaf kemarin aku tidak mencoret helain kertas mu. Aku kehilanganmu. Lagi-lagimereka menyembunyikan dan membacanya. Mereka menghinaku. Mereka menganggapku anak cengen yang hanya bisa berbicara pada lembaran kertas yang mereka ucap tak berguna. Tidakkah mereka tahu bahwa kau adalah sahabat ku yang sebenarnya? Kau tulus mendengarkan semua tentangku. Mereka? Aku hanya bisa bersabar. Aku tahu aku ini siapa. Aku memang tak selevel untuk mereka. Mengemis di hadapan meraka mungkin membuat harga diri ku semakin rendah. Kini aku akan mulai menjauhkan diri dari mereka


Sabtu, 3 desember 2011
Bahagia rasanya saat ku berada di sampingnya. Ku merasakan kehangatan dan kenyamanan yang tak pernah ku rasakan sebelumnya. Aku sangat mencintainya. Beruntung sekali rasanya ku memilikinya. Hanya dia yang mengerti aku. Meski kini dia telah berada sangat jauh, aku tak peduli. Aku akan selalu berkunjung ke tempat lama ku menuntut ilmu demi dia. Aku memberikan hadiah yang sangat ia inginkan. Bahagia sekali saat melihatnya tersenyum manis di hadapanku. Ucapan terima kasihnya saat ini masih ku kenang hingga sekarang. Tapi hari bahagia ini harus segera berakhir. Saat nya ku pergi dan meninggalkanya. Hal ini membuat butiran embun dimataku berjatuhan. Hanya bisa memandangnya melalui anganku. Apakah hari bahagia itu bisa terulang kembali?

Rabu,  7 desember 2011
Dini hari tadi, dia menelfonku dan mengucapkan selamat ulang tahun kepada ku. Dia orang yang pertama mengucapkannya. Keluargaku memberikan ku berbagai hadiah yang sangat ku impikan. Tapi, kepalaku sangatlah pusing saat jam pelajaran. Aku tak mendapatkan kesenangan. Tapi aku sangat bahagia hari ini. Semoga aku menjadi gadis yang lebih dewasa dari sebelumnya

Senin, 12 desember 2011
Aku benci mereka. Tak ada satupun dari mereka yang memperdulikanku? Apa aku adalah anak mereka? Mengapa meraka tidak menyayangiku seperti mereka menyayangi saudara ku? Mengapa mereka tega mengucapkan kata benci kepada ku? Apa yang aku lakukan sehingga mereka tak menganggapku anaknya lagi? Aku selalu berupaya membuat mereka bahagia. Teman-teman masih saja tak mendengarkan ku. Aku sangat benci semua manusia di dunia. Tak ada yang mengerti ku. Tak ada yang mau mendengarkan ku kecuali dia. Karena dial ah aku merasa lebih baik. Aku ingin diadi sampingku dan aku ingin menangis di pundaknya.

Kamis, 15 desember 2011
Aku sudah tak tahan lagi. 3 tahun ku jalani hidup seperti ini. Aku tak tahan untuk mendengar hinaan,cacian, makian, dari mereka semua. Aku tak tahan hidup. Tekatku sudah bulat. Aku akan mengakhiri kisah yang sangat memalukan ini. Aku tahu mungkin tuhan benci kepadaku. Aku lemah, aku tak setegar mereka. Anggaplah aku anak kecil. Aku hanya kalian mengetahui, bahwa tanpa aku, kalian akan merasa hampa, kosong, dan kekosongan. terima kasih atas cinta dan sayang yang kau berikan. tak pernah ku lupa akan kehangatan itu dan semua kenangan kita. jangan tangisi aku. ku yakin kau akan lebih bahagia dengan yang lain. everything going to happen, i always love u

Itu adalah hari terakhirku menulis di buku berwarna pink itu. Itulah akhir kisahku. Kini ku dapat melihat mereka menatapi kesalahannya.
Hariku berakhir di diary

Rabu, 14 Desember 2011

maaf kan ayah nak

sutarjo hanya bisa terdiam melihat tubuh anaknya yang terkulai lemas di atas tempat tidur yang terbuat dari kapuk dan berwarna pink cantik seperti warna yang disenangi anaknya.
kini air matanya menetes satu persatu merenungi apa yang telah dikerjakannya beberapa menit yang lalu

"ayah, mau pergi lagi?" tanya mutia, anak perempuan kecil sutarjo
"iya nak, ayah mau kerja cari uang"
"nanti pas ayah pulang, aku memberikan ayah sebuah kejutan. aku yakin ayah senang" ucapnya dengan wajah yang berbinar
"wah, apa itu ia? ayah jadi penasaran ni"
"itu rahasia, ia mau ngasih kejutannya kalau ayah udah pulang"

kini sang surya telah beristirahat dan berganti dengan sinar sang rembulan yang tampak redup. jam telah menunjukkan pukul 9 malam. itu merupakan saat yang tepat untuk seorang anak kecil berumur 7 tahun untuk tidur.

ketika sutarjo memasuki rumahnya, dia tampak kagum dengan keadaan rumah yang sudah rapi dan bersih. itu semua adalah kejutan yang diberikan mutia kepadanya. ada beberapa pakaian yang sudah terstrika rapi dan ada juga yang belum. tetapi ada sesuatu hal yang membuat sutarjo merasa sangat marah.

"aduh.. sakit ayah" ujar mutia yang menangis karena kesakitan sang ayah menjewer telinganya
"kamu mau tolong ayah atau membakarbaju ayah?"
"ia mau membuat ayah bangga pada ia"
"beginikah cara mu membuat ayah bangga kepadamu? membakar semua baju ayah?"
"ia tidak membakarnya yah"

sutarjo pun tidak segan-segan melancarkan tamparan dan tinjuan ke wajah halus putrinya. putrinya hanya bisa pasrah sambil menangis sekuat tenaga.

"ayah, sakit!" ucap mutia sembari menangis
"ini hukuman buat kamu. ini baju mahal, enak saja kamu merusaknya"
"tapi ia tak sengaja ayah"
"dasar anak tak berguna"

sutarjo pun melempar anaknya kearah dinding sehingga anaknya terkulai lemah. kepala mutia mengalami pendarahan hebat yang tidak dapat diselamatkan lagi. darah bercucuran di kepalanya.

"ayah, sakit. ayah, ia sayang ayah. ia tidak mau ayah marah padaku. ia mohon ayah jangan marah ia rela kesakitan demi ayah senang" ucap bibir mungil itu hingga tak bisa bergerak lagi dan meninggalkan dunianya.

tubuh itu hanya terdiam kaku, tatapan hampa, mata tertutup. dunia hanya terdiam, mendingin, hening.

sutarjo langsung berlari dan memeluk anaknya erat-erat.

"mutia! ayah sayang kamu nak. maafkan ayah nak. maafkan ayah"

sutarjo membaringkan mutia diatas pulau kapuk pink itu. sutarjo pun menuju ke arah dapur dan melihat ada beberapa makan yang sedikit berlepotan. itu di buat mutia untuknya. dia membaca sebuah pesan yang terdapat di pintu kulkas bagian bawah.

ayah, ia sayang ayah. iya ingin ayah senang atas semua yang ia lakukan. ia mau ayah memeluk ia sebagai rasa bangga ayah kepada ia. ia sayang ayah. i love u dad

sutarjo pun membaca pesan itu dan mulai berteriak histeris dan memeluk mutia sekuat tenaga.

"sadarlah nak. ayah minta maaf nak. bangun nak. nak, bangun! ayah sudah memelukmu erat-erat nak. ayah bangga dengan mu nak, ayah cinta kamu nak"

perkataan itu selalu diaucapkan sutarjo meskipun dibalik jeruji besi. 


Jumat, 09 Desember 2011

Rose



I got it full fight
I got it for people who i love
I take it to you, mom
I want to give you when you're sad
I want to return your affection
I want to show you that I love you so much mom
although only a rose
I hope you like it
I love you mom