Laman

Rabu, 14 Desember 2011

maaf kan ayah nak

sutarjo hanya bisa terdiam melihat tubuh anaknya yang terkulai lemas di atas tempat tidur yang terbuat dari kapuk dan berwarna pink cantik seperti warna yang disenangi anaknya.
kini air matanya menetes satu persatu merenungi apa yang telah dikerjakannya beberapa menit yang lalu

"ayah, mau pergi lagi?" tanya mutia, anak perempuan kecil sutarjo
"iya nak, ayah mau kerja cari uang"
"nanti pas ayah pulang, aku memberikan ayah sebuah kejutan. aku yakin ayah senang" ucapnya dengan wajah yang berbinar
"wah, apa itu ia? ayah jadi penasaran ni"
"itu rahasia, ia mau ngasih kejutannya kalau ayah udah pulang"

kini sang surya telah beristirahat dan berganti dengan sinar sang rembulan yang tampak redup. jam telah menunjukkan pukul 9 malam. itu merupakan saat yang tepat untuk seorang anak kecil berumur 7 tahun untuk tidur.

ketika sutarjo memasuki rumahnya, dia tampak kagum dengan keadaan rumah yang sudah rapi dan bersih. itu semua adalah kejutan yang diberikan mutia kepadanya. ada beberapa pakaian yang sudah terstrika rapi dan ada juga yang belum. tetapi ada sesuatu hal yang membuat sutarjo merasa sangat marah.

"aduh.. sakit ayah" ujar mutia yang menangis karena kesakitan sang ayah menjewer telinganya
"kamu mau tolong ayah atau membakarbaju ayah?"
"ia mau membuat ayah bangga pada ia"
"beginikah cara mu membuat ayah bangga kepadamu? membakar semua baju ayah?"
"ia tidak membakarnya yah"

sutarjo pun tidak segan-segan melancarkan tamparan dan tinjuan ke wajah halus putrinya. putrinya hanya bisa pasrah sambil menangis sekuat tenaga.

"ayah, sakit!" ucap mutia sembari menangis
"ini hukuman buat kamu. ini baju mahal, enak saja kamu merusaknya"
"tapi ia tak sengaja ayah"
"dasar anak tak berguna"

sutarjo pun melempar anaknya kearah dinding sehingga anaknya terkulai lemah. kepala mutia mengalami pendarahan hebat yang tidak dapat diselamatkan lagi. darah bercucuran di kepalanya.

"ayah, sakit. ayah, ia sayang ayah. ia tidak mau ayah marah padaku. ia mohon ayah jangan marah ia rela kesakitan demi ayah senang" ucap bibir mungil itu hingga tak bisa bergerak lagi dan meninggalkan dunianya.

tubuh itu hanya terdiam kaku, tatapan hampa, mata tertutup. dunia hanya terdiam, mendingin, hening.

sutarjo langsung berlari dan memeluk anaknya erat-erat.

"mutia! ayah sayang kamu nak. maafkan ayah nak. maafkan ayah"

sutarjo membaringkan mutia diatas pulau kapuk pink itu. sutarjo pun menuju ke arah dapur dan melihat ada beberapa makan yang sedikit berlepotan. itu di buat mutia untuknya. dia membaca sebuah pesan yang terdapat di pintu kulkas bagian bawah.

ayah, ia sayang ayah. iya ingin ayah senang atas semua yang ia lakukan. ia mau ayah memeluk ia sebagai rasa bangga ayah kepada ia. ia sayang ayah. i love u dad

sutarjo pun membaca pesan itu dan mulai berteriak histeris dan memeluk mutia sekuat tenaga.

"sadarlah nak. ayah minta maaf nak. bangun nak. nak, bangun! ayah sudah memelukmu erat-erat nak. ayah bangga dengan mu nak, ayah cinta kamu nak"

perkataan itu selalu diaucapkan sutarjo meskipun dibalik jeruji besi. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar