Tara Khaisyah Aila. Itulah nama panjang ku. Teman-teman sering mamanggilku Tara. Berasal dari keluarga super duper sibuknya, membuatku sering berpindah rumah. Aku hanya “numpang” lahir di Ausie, aku tinggal di Bandung hingga aku kelas 2 SD. Lalu aku tinggal di Makasar hingga kelas 5 SD. Sempat 1 tahun tinggal di negeri sakura hingga ku kelas 6 SD. Hidup di Yogya hingga kelas 1 SMP. Bogor hingga kelas 3 SMP, dan Jakarta dari SMA hingga ku akan memasuki bangku kuliah.
Saat aku kelas 1 SMP, teman-teman memanggilku manusia purba karena aku dan keluargaku NOMADEN atau berpindah-pindah. Tapi aku tidak merespon ejekan meraka karena aku merasa, dari segi wajah, tampilanku jauh lebih cantik dari manusia purba.
Ini adalah saat-saat aku akan memasuki bangku kuliah ku. Sejak kecil, aku mempunyai banyak pengalaman menarik yang mungkin menurutku tidak dimiliki orang lain. Mulai dari keluarga, teman, sahabat, kekasih hati dan sebagainya.
Saat aku mulai memasuki kelas 2 SMP, senangnya hati ini bias bertemu teman-teman baru. Karena sudah terbiasa pindah sekolah, aku tidak merasa canggung lagi. Kania teman pertama ku dan Hafiz pandangan pertama ku.
Ketika ku buka pintu kelas, sosok yang pertama kali ku lihat adalah Hafiz. Wajah ramah dengan senyum sapanya buat ku tersenyum kaku. Karena, baru saat ini lah aku mulai merasakan jatuh cinta. Aku dengan sedikit canggung berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri. Cukup lama rasanya aku berdiri di depan mereka.
“ada yang ingin bertanya?” Tanya Bu Nani kepada seisi kelas
“saya bu” jawab seorang anak yang duduk di sudut belakang.
“ya hafiz, silahkan. Apa yang mau kamu tanyakan??” jawab guru bahasa inggris yang juga wali kelas lokal ku.
Ha? Hafis? Dia mau Tanya apa?
“Kamu punya Fb, Twitter dan sebagainya?” Tanya dia dengan tampak berani.
Seisi kelas menertawakan pertanyaan Hafiz karena dianggap lucu.tapi hafiz sepertinya tidak mendengar celotehan mereka. Hafiz segera mengambil pena dan pensil untuk mencatatnya. Dan akupun mulai menjelaskan satu-persatu. Lalu, aku mulai duduk di sebalah Kania yang tadi pagi menyapaku.
Tak lama setelah itu, bel keluar main pun berbunyi. Aku bersama serombongan teman baru ku memenuhi kantin. Saat perjalanan menuju kantin, aku melihat Hafiz dan Farhan menuju pohon yang menjadi tempat tongkrongan mereka. Sebotol teh botol dalam genggamanya dan saat dia mulai meminum teh tersebut, aku mulai terpesona akan ketampanannya. Angin sepoi-sepoi datang menghembuskan rambut jatuhnya. Lengkaplah sudah ku lihat dia.
Bel pulang yang aku dengar membuat ku bersorak kegirangan. Ku berjalan menuju gerbang menunggu angkot yang akan mengantarku pulang. Walalupun aku tergolong orang yang cukup atau lebih dari mampu, tapi keluargaku tak pernah menjemputku dengan mobil mewah mereka dengan alasan sibuk.
“cewe cantik jalan sendirian aja? Hati-hati lho! Ntar ada yang gangguin” usil hafiz
“emang ada ni yang gangguin”jawabku kaget
“haha. Siapa tu? Jangan bilang aku..” ucapnya sambil tertawa
“nah, kamu hebat, udah tau jawaban tanpa di bilang” ucapku sambil mencibirinya
“haha, damai. Kita kan teman. Iya kan?” lagi-lagi dengan tersenyum
“iya-iya deh” balas ku dengan balik tersenyum
Kami bercerita banyak hingga kami pulang ke rumah masing-masing.
***
Besok pagi pun, ku mulai kelas dengan pelajaran sejarah. Pelajaran yang menurut ku cukup memeras otak setelah matematika. Setidaknya, di pelajaran ini tidak ada matematika meskipun harus mengafal angka yang berhubungan dengan tahun-tahun dan tanggal pada pelajaran ini.
Anak berwajah tampan itu ternyata sangat menyukai sejarah. Terbukti pada saat Bu Nani memulai pelajaran hingga kelas sejarah usai, hanya dia yang tampak sangat serius dan memperhatikan semua pelajaran dari A-Z dengan beribu-ribu pertanyaan yang dilontarkan kepada Bu Nani mengenai pelajaran sejarah.
“wesss!! Hafiz keren ya” ujar Kania tampak malu
Ha? Kania juga naksir hafiz? Sepertinya aku mundur saja deh, lagian kania kan cantik, pintar lagi. Kurang apa coba? Tapi sayangnya dia mempunyai agama yang berbeda dengan hafiz. Tapi aku yakin, sepertinya dia akan pindah agama ke islam seperti yang dia katakan pada saat pertama bertemu
“aku dan ibuku adalah seorang Kristen, tapi ayahku seorang muslim. Aku mengatakan kepada ayah, disaat ku nanti telah mempunyai KTP, aku ingin di KTP-ku beragamakan islam”
“hm..kania!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriakku yang mengagetkannya
“aa..apa tar? Maaf ya, lagi gak connect” jawabnya sambil tertawa
“gak connect ato lagi henk gara-gara mikirin dia??” tanyaku sedikit jail.
“ha? dia? Dia sapa?”
“yah, lagak linglung kamu mode on nih. Ya Hafiz lah”
“hha, hafiz? Aku sama hafiz Cuma sahabatan sejak kecil”
“sahabatan sejak kecil bukan berarti bisa menghilangkan rasa cinta kamu ke dia kan?”
“haha. Alah, ngaco kamu ni.”
“ngaku aja deh kamu. Kamu naksir dia kan??”
“sttttttt…. Tar, diem-diem aja ya. Jangan sampai ada yang tau, apalagi kalo dia sampai tau”
“hha. Betul ternyata tebakan aku. Detektif gitu lho..”
“tapi kok kamu bisa tau?”
“iya donk, aku melihatnya dari wajahmu yang mempunyai ekspresi wajah yang sama seperti yang ku rasakan”
“haha. Kamu juga naksir cowok ya? Siapa tu? Bilang-bilang donk ke aku.”
“haha. Secret.” Ucapku sambil meninggalkan kelas yang saat itu masuk jam istirahat.
Aku langsung berfikir dan membayangkan, apa yang menarik dari hafiz sehingga banyak yang naksir kepadanya? Hm.. aku mulai mengkoreksi diriku dan mencari tau jawabanku mengapa sampai mencintainya. Tak sampai bermenit-menit, aku menemukan jawabannya. Dia baik, pinter, jago olaraga, rajin, sopan, ramah, keren, ganteng, dan sholeh. Lalu aku berfikir, apa mereka menyukai hafiz dengan alasan yang sama? Kurasa begitu. Siapa saja yang bertemu dengan cowok seperfect dia, otomatis akan merasa jatuh cinta.
“waw. Ratu sekolah datang!! Jalannya kiri kanan woy, kipas anginnya gak lepas-lepas, rambutnya terbang-terbang. Apa gak takut rontok apa ya?” usil Tila di telingaku.
“haha. Iya ya. Aku juga ketawa liat dia. Hmm. Jadi dia ratu SMP MULYA 1 ya? Haha. Kok mahkotanya gak ada?”
Saat asik membicarakan sang ratu, tiba-tiba sang ratu berkata
“kak, ada teman aku yang naksir kamu nih. Dia cantik lho. Mau gak?” ujarnya sambil berdiri seseorang yang duduk di kursi kantin.
“Rat, udah berapa kali aku bilang ke kamu, aku males kamu comblangin gitu. Aku hidup buat cari cewek. Lagian sama anak kecil, nggak level kakak. Ngerti kamu!!” katanya dengan membentak
“kak Hafiz! Kenapa sih kamu marah-marah, toh niat aku baik”
“jangan gara-gara kamu artis sekolah dan aku adalah kakak mu, kamu berbuat seenaknya ke aku. Jangan gitu donk. Baru exis dikit kamu udah sombong” lalu pria itu langsung pergi.
Melihat dan mendengar kejadian itu, aku langsung bertanya kepada Tila,
“til, jangan bilang kalo mereka saudaraan!”
“ya gitu deh. Mereka 1 ibu, tapi beda ayah.”
“kok bisa beda ayah?”
“iya setelah Hafiz berumur 2 tahun, ayahnya meninggal gara-gara jantung.” Jawab Kania yang tiba-tiba datang.
“dulu saat masih kecil, Ratna tak pernah seperti itu. Dia sangat baik dan lugu. Tak seperti sekarang yang sombong, angkuh, and centil.” Ucap Kania yang melanjutkan pembicaraannya.
“lho??” kejutku dan tila
“kenapaa?” Tanya Kania heran
“kamu kapan datangnnya?” Tanya kami serentak
“hhe. Tadi” jawab kania sambil tertawa dan tersenyum
***
“ATTENTION PLEASE.. GET READY.. RESPECT.. FINISH.. SAY SALAM” ucap Khairul sembari menyiapkan lokal menjelang pelajaran di mulai.
“us..us.. tar..tar.. mana Kania?” Tanya hafiz yang tampak cemas.
“ntahlah. Kujuga nggak tau”
“dia gak ngasi kabar ke kamu?”
Aku hanya menggeleng karena aku sedikit cemburu melihat perhatian yang diberikan hafiz kepada kania. Aku tau sih mereka sahabatan sejak kecil, wajar saja mereka saling perhatian, tapi aku sangat cemburu. Sedangkan aku tak pernah mendapatkan perhatian dari Hafiz.
Kini saat nya jam istirahat di mulai. Aku yang tidak ada teman pergi ke kantin sendirian dan memesan 1 mangkok bakso dengan kecap ekstra. Tiba-tiba datang Fauzan lokal 8.C menemui ku
“apa disini kosong? Boleh aku duduk?” tanyanya
“ya, boleh, duduk aja”
“hmm.. makasi, kalo boleh Tanya, kamu Tara anak baru 8.A itu ya?
“Lho? Kok kamu tau?”
“haha. Hafiz yang certain ke aku. Aku kan dekat sama hafiz.”
Kami pun berbicara sambil tertawa bersama. Ternyata fauzan juga anak yang kocak. Haha. Ketawa aku lihat aksi dan tingkah dia. Tiba-tiba, Hafiz menyeretku dan mengajakku pergi ke tempat lain dan meninggalkan fauzan sendirian tanpa pamit.
“tar, kamu tau fauzan gak sih?”
“kan dia teman kamu?”
“teman? Nggak tuh. Aku musuhnya dia”
“terus, kok tadi dia bilang…”
“bilang teman kata kamu? Itu dulu. Bukan sekarang”
“lho? Kok gitu?”
“dulu aku dan dia sahabatan. Tapi ada sesuatu yang membuat aku membencinya dan itu tak bisa ku katakan padamu.”
“merebut kania dari kamu?” jawabku pelan
“lho??”
“betulkan?” Tanya ku sambil merunduk dan menjatuhkan air mata
“kok kamu tahu?”
“melihat kania yang sangat dekat dengan fauzan dan tampaknya dia tak mendengarkan mu. Apa kamu mencintainya? Katakan padanya kalau itu yang kamu rasakan..”
“tidak! Bukan dia.” Jawabnya pelan
“lalu siapa?”
“aku mencintai seseorang yang baru ku kenal. Tapi ku tak mengetahui perasaannya. Andai saja dia mencintaiku seperti aku mencintainya.” Jawabnya pelan
“kalau kamu memang cinta dan sayang kepadanya, lebih baik kamu ungkapkan saja. Siapa tau dia juga mempunyai perasaan yang sama kepadamu. Dia telah terlalu lama menunggu mu. Katakan agar dia mengetahui perasaanmu.” Jawabku dengan sedikit berteriak.
“aku tak berani. Aku tak ingin cinta ku bertepuk sebelah tangan. Lebih baik dia menyadari sendiri perasaanku.”
Ya tuhan, apa yang dia katakan tadi? Apa benar orannya tu aku? Apa benar dia mencintaiku?
Tapi, aku tak merasa begitu. Ku yakin dia bukan mencariku. Tapi, disisi lain aku merasakan cintanya padaku. Tapi, alangkah lebih baik kalau dia MENGETAHUI SENDIRI.
“terserahlah kalau itu mau kamu. Tapi, jangan biarkan dia menunggu terlalu lama atau bahkan dimiliki yang lain”
Aku segera meninggalkannya yang terdiam dibawah pohon yang menjadi tempat tongkrongannya.
***
“selamat ulang tahun anak mama dan papa tercinta. Semoga apa yang dicita-citakan jadi kenyatakan. Papa mama sayang tara..”
Tepat tanggal 29 januari yang merupakan hari ulang tahunku, tak lagi ku dengar ucapan itu dari kedua orang tuaku. Mereka yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing hingga melupakan tanggal yang berguna bagi ku. Tepatnya ini adalah ulang tahun yang keduaku memijaki bangku SMA
Pagi ini kulangkahkan kakiku dengan sangat tak bersemangat. Rasanya tak ada yang mengerti aku. Ku coba melangkah dengan terpaksa menuju sekolah ku. Pelajaran yang ku jalani sangat tak menyenangkan. Diawali dengan matematika, dilanjutkan sengan sejarah, disusul lagi dengan fisika, dan di akhiri dengan bahasa Indonesia. Teman-teman tampak tak ada yang tahu dengan hari ulang tahunku.
Aku benar-benar merasa tak diperdulikan. Saat ku mencoba menyapa Aista, tiba-tiba Alista berbicara dengan temannya yang lain, Galih ku cari, sedang bersama teman-temannya. Hanya aku yang sendiri.
Di rumah tak dapat perhatian, di sekolah bagai tak dianggap. Padahal aku ingin sekali berteman dengan mereka. Aku ingin sekali mereka memperdulikanku, bukan mengacuhkanku.
Lagi-lagi ku pulang dengan angkot. Angkot yang ku naiki berjalan sangat lambat sehingga membuatku tambah tak bersemangat. Ku sapa teman-teman melalui sms, tak ada satupun yang menjawab. Sungguh malang hidup menjadi Tara Khaisyah Aila.
Andai saja mereka tau aku kekurangan perhatian dan kasih sayang, mungkin ku merasa meraka
akan peduli terhadap nasibku.
Hal yang buruk terjadi padaku. Hingga jam 23.00, ku melihat handphone, belum ada pesan selamat ulang tahun masuk ke hp ku. 23.12, hp ini tetap saja tak berdering. Tak ada satupun pesan, baik dari teman maupun orang tua. Aku mulai percaya, apa mereka benar-benar telah melupakan atau telah tak menganggapku lagi? Sekarang telah menunjukkan jam 23.38, hanya beberapa menit lagi, hari ulang tahunku terlewatkan.
Aku mulai sedikit pasrah dan khawatir. Aku mulai tak bersemangat, ku coba berbaring diatas pulau kapukku yang berwarna pink sambil menatap handphone dengan sedikit penuh harapan. Sekarang telah menunjukkan jam 23.51. aku mulai tak memikirkan pesan itu lagi. Air mataku semakin deras karena tidak ada yang mau memikirkanku. Kemana hafiz yang dulu selalu menjadi orang pertama yang memberikan ku ucapan selamat ulang tahun? Aku mulai menangis, terisak. Kemana kalian semua? Saat aku membutuhkan, kalian pergi tanpa ada satupun pesan. Sudah jam 23.56 ku mulai memejamkan mata dan mulai tak memikirkan lagi.
Tok…tok… kring..kring..
Aku yang hanya sendiri di rumah mewah itupun berjalan ke bawah dan membukakan pintu. Tepat jam 23.59, ku membuka pintu yang lumayan besar. Jam 24.00 ucapan selamat ulang tahun yang pertamaku kini ku dengar. Seorang anak SD berkaca mata datang dan memelukku.
“selamat ulang tahun ya kak, semoga kakak menjadi orang yang dinanti-nantikan bagi seluruh dunia.”
Aku mulai terharu, dan ku menangis karena seorang anak kecil telah memikirkan perasaanku.
“maaf bang hafiz nggak bisa datang, karena hari ini di sana masih sekolah, jadi dia tak bisa kembali ke Jakarta dan meninggalkan sekolahnya.”
“gak apa dek. Setidaknya Hafiz masih sehat-sehat saja, ini merupakan kado terindah untuk kakak”
Aku mencoba memaklumi keadaan ini. Tepat pukul 24.00 meskipun itu bukan hari ulang tahunku lagi, setidaknya ku mendapatkan ucapan selamat ulang tahun yang dapat menenangkan ku. Terima kasih Hafiz, walau kamu tak datang, aku cukup senang karna adikmu bisa datang dan menyampaikan ucapan selamat ulang tahun padaku. Seorang anak kecil yang tengah malam berjalan dari rumahnya ke kediamanku tampak sangat mustahil, tapi ini mungkin saja terjadi.
“kamu gak masuk? Udah malam lho!”
“nggak apa kak. Aku harus buru-buru”
“ok dek, makasi ya. Sampaikan salam kakak buat hafiz.”
“iya kak, sama-sama.”
Walaupun hanya bocah kecil, tapi pada saat itu, aku merasakan hafiz ada di dekatku dan mengawasi gerak-gerikku. Hafiz, kamu di mana? Apa kamu melupakanku? Kenapa tidak kamu langsung yang mengucapkannya? Apa kamu mengetahui aku sangat merindukanmu?
Memang, setelah tamat SMP, Hafiz melanjutkan SMAnya di Singapura bersama tantenya yang berada di sana. Dia mendapatkan beasiswa dari pemerintah akibat kepintarannya. Aku sangat sedih saat mengetahui aku dan dia sudah berada sangat jauh.
Aku dan dia memang tak pernah pacaran, tapi aku masih menyimpan banyak perasaan kepadanya. Andai saja kini dia mengetahui perasaan ku. Semoga dia tak menemukan wanita cantik yang dapat merebut hatinya. Teman-teman banyak yang mengatakan kalau sebenarnya hafiz sangat mencintai ku, tapi dia tidak ingin mengatakan padaku karena dia tak berani. Kania pun juga mendukungku dengan hafiz meskipun dia tahu, dia juga sangat mencintai hafiz seperti yang ku rasakan.
Walaupun dia kini di negeri yang jauh, setidaknya aku masih bisa merasakan kehadirannya yang selalu bersamaku, mengawasiku dan menenangku disaat ku suntuk. 3 kali setahun aku dapat bertemunya di Jakarta. Rindu yang membludak ini hanya bisa ku tahan dengan tertawa bersama teman. Tapi saat kesendirian menyertai ku, banyangan nya kembali teringat dalam anganku.
***
Hari kelulusanpun datang, dengan nilai yang cukup membanggakan, aku dapat lulus dan membuat orang tuaku bangga. Hafiz berjanji, 1 minggu setelah hari kelulusan, dia akan datang dengan membawa sebuah kejutan untukku.
***
Tepat 1 minggu setelah hari kelulusan, aku menunggu kedatangan Hafiz dengan kejutannya. Di cafe tempat kita sering duduk, mengumpul dan merupakan tempat kenangan kita.
Tak lama setelah ku menunggu, datanglah pria tampan itu dengan wanita yang di gandengnya.
Apa? Apa ini yang dia katakan kejutan? Kekasih baru yang di dapatkannya sangat cantik. Beda sekali denganku. Aku langsung menangis melihat semua ini.
“tar, kamu kok nangis?”
“nggak kok, Cuma senang aja bisa ketemu kamu”
Ku tak berani mengucapkan yang sebenarnya. Kemesraan mereka mmbuatku sangat cemburu. Apa bila ini hadiah yang di maksudkannya, lebih baik ku tak datang dari pada aku harus tersiksa seperti ini. Saat ku Tanya apa mereka pacaran, hafiz hanya menjawab kami teman akrab. Apakah teman akrab itu harus selalu berdua dan membuat ku sakit hati? Sungguh tak bisa ku melihat kenyataan ini. Ku hanya bisa ikut tersenyum ketika mereka tersenyum. Hanya 1 jam bertemu, aku berpamitan pulang.
“haf, aku pulang dulu ya. Kasihan mama di rumah sendirian.”
Tanpa ada jawaban “IYA” dari hafiz, ku segera berlari sambil menangis. Telah lama ku menunggu nya, telah lama ku pendam perasaan ini, telah lama ku ingin bertemu, tapi ini yang dia berikan padaku. KAMU NEGRTI NGGAK PERASAAN KU…… wanita itu menggunakan kalung yang sama dengan kalung pertama yang dia berikan padaku. Apa tujuan dan niat dia sebenarnya? Dia ingin menyakiti hati ku? Dia ingin membuat ku terluka? Seberapa bencikah dia pada ku?
Dari komik detektif conan yang ku baca, kini ku manyadari dan ku akui bahwa cinta itu NOL. dikalikan dengan berapapun, hasilnya hanya penderitaan.
Sesampai dirumah, ku mulai menangis dan melempatkan bantal sebagai pelampiasan kesal ku. Kenapa dia tak mengetahui perasaan ku? Mengapa dia begitu ingin menyakitiku??
1 minggu hafiz berada di Jakarta, aku tak pernah menemuinya lagi setelah kejadian itu. Semua pesan, surat darinya ku hapus dan tak ku balas. Sakit hati ini betul sangat membutakan hati ku. Untuk apa aku menunggu bertahun-tahun demi harapan yang tak pasti ini? Untuk apa aku menunggu demi cinta hampa ini??
UNTUK APA AKU HIDUP BILA HANYA BERISIKAN PENDERITAAN??
Kini adalah saat dimana hafiz akan kembali ke singapur. Ingin rasanya aku menemuinya, tapi aku tak ingin menemuinya. Dan tak ku sangka, sms yang berisikan
“aku akan kembali ke singapur, jaga diri baik-baik. Rajin belajar. Ku ingin melanjutkan kuliah di singapur dan ku harap aku akan bertemu dengan mu di singapur dan kita akan bersama-sama disana. Hanya kau dan aku.” Akan menjadi pesan terakhir yang ku dapatkan darinya.
***
Pagi yang mendung itu, ku tonton berita yang menyatakan bahwa terjadi kecelakaan pesawat. Seketika ku menyadari bahwa pesawat itu adalah pesawat yang di tumpangi hafiz saat perjalanan pulang menuju singapur. Dan yang lebih menyesal adalah pada kecelakaan pesawat itu, tidak ada satupun yang selamat.
Ku menangis sekencang mungkin dan ku pergi menuju rumah hafiz yang di Jakarta, mereka tampak berduka dan sangat kehilangan karena seorang hafiz yang sangat mereka banggakan harus lebih dahulu pergi meinggalkan mereka.
Ibunya yang dengan perlahan menuju kearahku langsung memelukku dengan penuh tangis.
“hafiz tewas tar. Hafiz tewas. HAAAAAFFIIIZZZZ!!!!” teriak seorang ibu yang tak ingin kehilangan anaknya.
Adiknya langsung memegang tanganku dan membawaku ke kamar hafiz. Saat aku masuk, aku melihat diatas mejanya terdapat foto ku bersamanya. Aku langsung menangis melihat foto itu. Raihan mengambil secarik kertas yang berada di laci mejanya. Kertasnya tampak lusuh.
“sebenarnya, sejak smp bang hafiz ingin memberikan surat ini ke kakak, tapi dia sangat tak berani. Dia takut kakak menolaknya. Sampai sekarang dia sangat mencintai kakak. Sebenarnya dia tak ingin ke singapur. Tapi, papa dan mama menyuruhnya untuk pergi kesana demi ilmu”
“tapi dek, dia sudah tak mencintai kakak lagi. Dia telah mendapatkan wanita lain”
“sebenarnya dia tak mencintai wanita itu. Hanya paksaan dari tantenya. Bang hafiz menyuruh dek malam-malam mengucapkan selamat ulang tahun ke kakak karena dia sangat sanyang dan mencintai kakak”
“tapi, mengapa dia tak menelfon atau mengirim email dan pesan?”
“karna dia terlambat mengucapkannya, dia takut. Kalau dia mengecupkan terlambat, kakak akan marah kepadanya. Bisa dikatakan, dia adalah orang yang sangat mencintai kakak dan paling tulus mencintai kakak apa adanya. Hanya saja dia sedikit tak berani” ucap raihan yang sengat sedih sambil memberikaku surat itu dan meninggalkanku sendirian di kamar hafiz.
Awan tertawa ria, dan rembulan tersenyum ramah
Ku tertunduk malu dengan perasaanku
Ku raih bintang untuk ungkapkan ini padamu
Sang raja surya memberikanku kekuatan
Ku ucap rasa cinta yang tertahan
Ku ucap dengan keyakinan dan kesetiaan
ku harap bintang malam ini menyampaikan pesan
sayup sayup sampai terdengar di telingamu
ku senantiasa merindukamu dan mencintaimu hingga ku tiada
membaca surat itu, ku terduduk dan meratapi semuanya. Andai saja ku ungkap perasaan ini, tiada penyesalan yang tercipta.
Hafiz!!!!! Ku ingin di alam sana kau mengetahui bahwaku sangat mencintamu, sayangat menyayangi mu. Ku ingin kite bersama hingga akhir hayat.
***
5 tahun kemudian
“Haha, Fauzan.. kamu ni ada-ada aja”
“aku serius. Aku sayang banget sama kamu.”
“tapi aku mencintai seseorang yang sampai sekarang ku tak bisa melupakannya”
Datang angin yang berbisik di telingaku,
terima saja dia bila itu membuatmu bahagia. Jangan fikirkan aku. Aku tak akan bisa kau lihat lagi. I love u.
“baiklah zan, aku juga mempunyai rasa yang sama denganmu”
“kamu serius?”
“iya, sungguh”
“I love u”
“love u tu”
Haf, walau sekarang aku bersama fauzan, tapi ku tak akan pernah meluupakanmu karna aku sangat mencintaimu.