Laman

Kamis, 06 Desember 2012

Inilah keajaiban


Aku duduk manis disalah satu bangku taman yang sering menjadi satu dari sekian banyak target kunjunganku setiap harinya. Bagian atas dari bangku itu... Dulu aku mengukir beberapa kata hingga menjadi kalimat yang selama ini termasuk target hidupku. Aku mengukirnya saat satu persatu daun pohon itu berjatuhan.
“I’ll Find you my true love” Untuk ke sekian kalinya aku melirik tulisan itu. Ukirannya tak begitu jelas lagi. Tentu saja, tulisan itu aku ukir sekitar dua tahun yang lalu. Tepat dihari ulang tahun ku saat ku hanya merayakannya sendiri di negeri perantauan ini.

Tak ada hal penting memang yang aku lakukan ketika duduk manis di bangku taman. hanya mendengar lagu dari earphoneku dengan volume lembut sehingga aku masih terfokus dengan novel yang selalu aku bawa tentu saja dengan judul yang berbeda. sesekali setelah aku lelah membaca, aku mengangkat kembali kepalaku yang sudah lama menekur dan melihat banyak pasangan berjalan santai. Kembali aku melirik tulisan yang aku ukir, aku mencoba tersenyum kembali.

Ucapkan apa yang kau harapkan. Pejamkan matamu perlahan dan saat kau membuka matamu, biarkan keajaiban membuatnya menjadi nyata..

Aku mencoba untuk berjalan meninggalkan markasku, atau mungkin markas semua orang saat mereka merasa sendirian. Terik matahari saat itu tidak begitu menyengat, bahkan terasa begitu bersahabat bagi alam. Begitu menyenangkan mungkin ketika kau menemukan pendamping hidupmu sehingga kau tak perlu berjalan sendiri di taman yang indah seperti yang ku lakukan tepat saat ini.

Aku singgah dulu ke sebuah mini market untuk membeli makanan ringan serta coklat untuk ku berikan pada seseorang esok. Tepat sekali. 14 februari saat semua pasangan merayakan hari kasih sayang itu. Betapa indahnya cinta mewarnai dunia sehingga banyak pelangi yang dapat kau lihat setiap harinya. Dan aku, inilah kali pertamaku menguatkan tekat untuk memberinya sesuatu. Banyak orang mengatakan cinta itu seperti cokelat. Begitu manis saat kau bersamanya. Tapi ketika kau kehilangan coklat dari genggamanmu, saat itulah kau kembali merasa pahitnya hidup. Tapi aku harap, aku dapat menggenggam coklat itu setiap harinya. Bukan menggenggam sendirian, menggenggam berdua bersamanya sehingga aku dapat merasakan manisnya hidup dengannya.

Aku membungkus coklat itu dengan kertas bermotiv hati berwarna pink dan ungu. Begitu indah.. Aku menyelipkan sebuah surat kecil. Disurat itu, aku tak berani menuliskan kata cinta padanya, aku masih terlalu lugu untuk merasakan sakitnya bila aku kehilangan cokelatku. Tapi aku selalu berharap, ia mengerti apa yang aku rasakan. Mengerti perasaanku sepenuh hati. Mengerti harapan yang ku ukir di bangku taman.

Aku kembali ke apartemenku. Menyalakan lampu yang tadinya padam. Segera ku ambil laptop, aku nyalakan dan menekan password satu persatu. Aku membuka file yang menjadi diariku setiap harinya. Hampir semua isi catatanku mengenai pria itu. Pria yang ku cintai secara diam-diam. Ku ketik bagaimana awal pertemuan ku dengannya, ku ketik semua hal lucu yang kita alami, ku ketik ketika aku bersedih, ia selalu ada untukku. Aku mencintai dia? Memang, dan aku menyadari itu. Tapi mengapa? Cinta itu buta? Tidak! cinta tak pernah buta. Ia melihat dari sisi yang tidak ku sadari. Tapi bagaimana bisa aku mencintainya? Ku rasa kita tak butuh jawabannya. Perhalan perasaan kita bisa menjawab, tapi bukan fikiran.

Ku matikan laptopku dan menuju tempat tidur. Ku padamkan lampu kamarku dan hanya menyalakan lampu tidur. Aku menggunakan selimut dan memejamkan mataku untuk tertidur. Sebelum itu aku berdoa terlebih dahulu serta mendoakannya. Selalu ketika aku mendokannya, aku menanyakan pada diriku sendiri, apakah ia juga mendoakanku? Mungkin saja iya. Tapi, siapa aku? Pastinya tidak mendoakanku. Tapi itulah cinta ku. Aku selalu memberi tanpa harus menunggu balasan darinya.

Alarm memekakkan telingaku hingga ku tak dapat melanjutkan mimpi indahku. Aku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 7 pagi. Aku mengucek mataku perlahan dan berusaha bangkit dari tempat tidurku. Ku gunakan sendal khusus untuk kamarku dan berjalan menuju jendela. Aku membuka krai dan melihat pemandangan hari ini sangat indah. Pancaran matahari yang menenangkan fikiranku. Seperti itulah hidupku, selalu cerah seperti mentari di pagi hari. Ku bersihkan diriku dan bergegas menuju bangku kesayanganku di taman itu.

Aku menggukanan kaos pink polos dengan warna yang cukup lembut dipadu dengan celana jeans panjang. Aku menggenggam sebuah novel dan sebatang cokelat yang setelah ini akan kuberikan padanya. Tepatnya setelah aku yakin untuk memberikan ini kepadanya. Ketika aku sampai tepat didepan bangku ku, aku terheran melihat sebuah amplop berwarna pink yang serupa dengan warna kaosku diatasnya. Pada amplop itu aku dapat melihat gambar hati dari pulpen bertintakan ungu. Nyaris sama dengan bungkus cokelatku ini. Aku hanya berdiri mengambil surat itu dan melihat bagian belakangnya “to Selvi Haztia”. Selvi Haztia? Itu namaku. Apa mungkin ada orang lain yang bernama Selvi Haztia selain aku? Mungkin tidak. Surat ini untukku? Mungkin saja.

Aku membuka amplop itu dan melihat secarik kertas. Tulisannya rapi sekali. Itulah penilaian ku pertamakali ketika melihat surat ini. Aku lepas earphone yang sedang aku kenakan. Aku fokuskan hatiku untuk membaca secarik kertas indah ini.

Mencintai seseorang tanpa tahu orang itu mencintai kita atau tidak sungguh menyedihkan. Andaikan aku adalah super hero, aku ingin mempunyai kekuatan membaca fikiran, karena dengan begitu aku bisa tahu apa yang ada difikirannya kini. Adakah aku difikirannya kini? Tidak tidak, bukan kini. Tapi mungkin adakah aku  beberapa saat terlintas dalam fiikirannya walau tak lebih dari satu detik? Sepertinya tidak mungkin. Aku siapa? Bukan siapa-siapa baginya. Tapi aku tak butuh itu semua. Melihat nya tersenyum aku juga tersenyum. Meski ku tak tahu mengapa aku harus tersenyum. Mungkin kerena saat ia bahagia, aku turut merasakannya. Di bangku ini, dia duduk mendengarkan musik yang aku tak pernah tahu musik apa itu. Aku selalu memperhatikannya tanpa ia sadar akan kehadiranku. Inikah cinta? Apakah aku sedang jatuh cinta? Kurasa begitu. Aku tak tahu mengapa aku mencintainya. Tapi aku tak butuh jawaban itu. Tak perlu ada alasan yang pasti untuk mencintanya seseorang, kan? Apa kau tahu siapa seseorang itu? Dia adalah kau. Biarkan aku mencintaimu selamanya. Biarkan aku berada disisimu. Mulai sekarang dan selamanya...

Aku membacanya sangat terfokus hingga ku lupa untuk duduk sebelum membacanya. Badanku menghadap bangku sehingga membelakangi jalan untuk pejalan kaki. Aku terkaget membaca surat itu. Apa yang aku fikirkan sangatlah serupa dengan apa yang ia tulis, tak ada yang berbeda. Sangat sama. Kini aku memutar badanku untuk duduk menengakan diri dibangku indahku. Saat aku membalikkan badanku, aku melihatnya tepat dibelakangku. Ia membalas tatapan ku dengan senyuman yang begitu indak. Ia... Ia pria yang selama ini aku cintai. Aku cintai meski aku tak tahu perasaannya. Apakah ia?? Ia penulis surat ini??

“Kau telah membacanya?”
Aku hanya mengangguk
“Apakau merasakan hal yang sama?”
Aku hanya diam. Aku tak tahu ingin menjawab apa. Perlahan ia membuka mulutnya untuk kembali berbicara
“Aku sangat menyayangimu. Aku tak tahu dari sisi mana hatiku memandangmu tapi aku tahu, dari sisi itulah aku bisa menyayangimu setulus hatiku. Aku sangat menyayangimu” Suara yang lembut sekali, fikiranku menjadi tenang mendengar kalimat yang perlahan diucapkannya. Ku yakinkan hatiku untuk menjawab”

Aku juga mencintainu, sungguh aku menyanyangimu

Aku membalasnya dengan bahasa isyarat. Aku bisu, aku tak bisa bicara menggunakan mulut, lidah dan bibirku.

“Aku mencintaimu. Apapun itu. Bahkan kekuranganmu sekalipun. Why do i love you? Cause when i’m with you, i can be my self. Aku mencintaimu dengan caraku, aku menyanyangimu dengan caraku. Dan aku tak ingin kehilangan hatimu untuk selamanya”

Aku menyambut tangannya yang mengarah kepadaku. Aku genggam tangan itu dengan lembut. ia membisikkan kata yang ingin aku dengar darinya

“Aku menyayangimu”

Aku hanya bisa menatapnya dengan senyum tulusku. Kemudian kami berjalan mengitari taman dan menyaksikan daun daun berjatuhan tampak begitu indah. 14 februari, hari penuh kasih sayang. Aku mencantai hari ini. Aku mencintainya. Keajaiban itu ada. Pasti datang menghampirimu. Begitupula cinta. Sayangi ia dengan tulus, maka ia akan lebih tulus menyayangimu.



Kamis, 11 Oktober 2012

gaun ini untukmu sahabatku

pagi itu sangat cerah. Andina memang akrab dengan Marta. Mereka selalu bersama-sama selamanya. 3 hari lagi. 28 september, Andina merayakan ulang tahunnya.Saling memberikan hadiah bila ada yang berulang tahun bukanlah hal baru bagi mereka berdua. Mungkin itu sudah menjadi tradisi wajibs etiap tahunnya. Tapi tahun ini sangat berbeda. Andai ia tahu yang sebenarnya, tak akan ada salah saru yang tersakiti dan tak akan ada yang menyesalinya.

Siang itu mendung. Sebenarnya langit tampak sangat cerah, tapi perasaannya yang mendung. Andina tampak begitu iri saat berada dikamar Marta. Ia melihat sebuah gaun berwarna pink muda dengan motif bungan sangat indah sekali. Itu adalah baju yang sudah lama ia idam-idamkan. Malah ia telah mengatakan kepada MArtin untuk tidak membeli baju itu. Martin tidak melihatkan baju itu kepada Andina, hanya saja Andina melihat baju itu saat ia sedang mengotak atik baju yang berada dalam sebuah kotak sederhana yang letaknya diatas lemari pakaian Marta. Bayangkan, ia telah mengatakan untuk jangan membeli baju itu, Marta masih saja membelinya. Padahal, uangnya sudah cukup untuk membeli gaun indah itu.

"Apa ini?" Andina sangat marah dengan apa yang ada dihadapannya sekrang.
"Oh, itu gaun cantik yang sudah lama ingin ku beli" Marta hanya menjawab enteng
"Jadi ini, ini yang namanya sahabat? Sudah ku peringatkan untuk tidak membeli gaun ini, kau masih tetap membelinya. Dimana hatimu?
"mengapa kau begitu mempermasalahkan hal ini? Apa salahnya aku membeli gaun yang sama?"
"Kau tidak mengerti perasaanku. Aku sudah lama menginginkan gaun itu, dan kini kau membelinya tampa memberitahuku terlebih dahulu. Ini memang hal yang sederhana, tapi aku sangat kecewa dengan apa yang kau lakukan? kau seperti mengkhianatiku."
"Kau memang egois, itu biasa saja. Mulailah untuk merelakan gaun ini. Besok aku ada acara makan malam dengan kekasihku. Pastinya aku ingin tampil cantik"
"Apa, kau mempunyai kekasih? Aku sendiri tidak mengetahui hal itu"
"Baiklah, mungkin ini saat yang tepat untuk ku ungkapkan kepadamu, Patra adalah kekasihku"
"Yang benar saja, Patra adalah kekasihku!"
"Bukankah ia telah memutuskan mu tiga hari yang lalu?"
"Kau pengkhianat, sungguh pengkhianat! Biadap, orang amcam apa kau ini? Jadi kau yang membuat Patra menjauh dariku. Mana otakmu? Mati saja kau dihadapanku!"

Andina berlari meninggalkan Marta yang tersenyum penuh arti. Enatah apa artinya, yang pasti sejak saat itu mereka tak pernah lagi bertemu. Malah Andina memaksa pindah ke sekolah lain untuk menjauhi Marta. Mereka kehilangan kontak.

4 tahun kemudian...

Andina hanya menatap hampa ke pusara ibunya. Meski kini ia hanya hidup dengan ayahnya, ia masih sering mengunjungi pusara ibunya yang terletak di sebuah kota yang sangat menyedihkan. Kenangan buruk itu, Marta.

Ia membalikkan badan untuk kembali ke mobilnya. Tapi langkahnya terhenti melihat rombongan pengantar jenazah yang salah satu diantaranya sangat dikenalinya. Itu orang tua Marta.Andina sagat heran. Ibu Marta terlihat asngat sedih, sedangkan ia tak menemukan Marta disana. Tak dapat dipungkiri, ia sangat merindukan sahabatnya. Ia menghampiri ibu Marta dan bertanya apa yang terjadi.

"Andina, kamu kemana saja? Apa kamu tau Marta sangat merindukan kamu?"
"Saya..saya juga merindukan Marta buk. Sekarang Marta dimana bu? saya ingin minta maaf atas ulah saya bu"
"Marta ada disini Nak, kami akan menguburkan ia"

Marta meninggal??

"Bu, ada apa dengan Marta bu? Mana Marta bu? Mana Marta bu?"
"Ia bunuh diri setelah diselimuti rasa bersalah kepadamu nak. Ia selalu mengatakan kalau ibu menemui kamu, berikan kotak ini padamu. Ia ingin memberikan ini saat hari ulang tahunmu"

Kotak itu? Kotak sederhana yang ia temukan diatas lemari pakaian Marta. Kotaknya kini terlihat lusuh. Kotak 5 tahun yang lalu? Kotak itu???

Andina melihat isinya dan menemukan gaun yang diimpikannya. Ia juga menemukan secarik kertas yang tulisannya sudah mulai pudar. Tapi masih bisa dibaca

Happy Birthday my best friend
Aku tau kau sangat ingin gaun ini, akankah lebih baik kalau gaun ini aku berikan untukmu sebagai hadiah ulang tahunmu, bukan? Aku harap kau menyukainya. Pasti kau sangat menyukainya. Faktanya, Aku bukan pacarnya Patra. Kami hanya berencananya untuk mengerjaimu.
Kau kini bukan anak-anak lagi. Aku bangga menjadi sahabatmu. Aku sangat mencintaimu. pakailah gaun ini saat kau menemuiku. Adalah sebuah kehormatan untukku bisa melihat,u menggunakan gaun itu

Marta, mengapa tidak kau katakan yang sebenarnya? Ini semua hanya salah paham. Andina, andai saja kau tidak terbawa emosi, kau tak akan pernah merasakan penyesalan seperti ini. Kau mencintai Marta, bukan? Harusnya kau lebih mengerti terhadap sahabatmu. Mungkin suatu saat nanti, Marta akan datang, bermain gitar bersama, berbicara bersama lagi dan melihat kau menggunakan gaun itu


Selasa, 10 Juli 2012

One day without the night


            Malam.. Malam.. Dan hanya malam yang dapat menenangkan fikiran disaat semuanya terasa berbeda. Berbeda atau berubah? Atau bahkan menghilang? Mata yang tadi terpejam kini mulai terbuka perlahan dan memperlihatkan sepasang bola mata yang tampak tak begitu bahagia, tapi menyembunyikan sedikit kekesenangan. Desahan panjang terdengar setelah minghirup udara malam yang sejuk.

Mengharapkan air mengalir keatas, tak akan mungkin. Tak akan terjadi meski dunia dapat dihentikan

            Kepalanya terasa sangat berat tak mengijinkannya untuk bangkit dari perasaan yang dia sendiri tak bisa menebak. Hanya berfikir, dan mengingat apa yang terjadi. Masih memaksakan otaknya berfikir, terbanyang seulas senyum yang sangat dirindukannya dan bahkan sangat dinantikaannya.
            Dimana dia berada? Dimana pemilik senyum itu berada? Apa itu hanya mimpi? Tidak! Dia benar-benar melihat senyum itu. Dia benar-benar melihatnya disaat matahari mulai bersembunyi. Seyum yang damai. Senyum yang dapat melupakan masalahnya sejenak. Hanya sejenak.. Dan saat senyum itu menghilang, semuanya kembali seperti semula. Beban hidup mendatanginya setelah senyum itu pergi, tepat setelah senyum itu tak dilihatnya lagi.

            Dimana pemilik senyum itu berada?

 Pertanyaan itu membuat otaknya tak bisa berfikir dan tak bisa bernafas. Pertanyaan itu membuatnya tak berdaya. Tubuhnya terbaring pulas dan tak dapat mendengar keributan disekitarnya. Yang kini dapat dilakukan hanya menutup lembaran hasil pemikirannya