Aku duduk manis
disalah satu bangku taman yang sering menjadi satu dari sekian banyak target
kunjunganku setiap harinya. Bagian atas dari bangku itu... Dulu aku mengukir beberapa
kata hingga menjadi kalimat yang selama ini termasuk target hidupku. Aku mengukirnya
saat satu persatu daun pohon itu berjatuhan.
“I’ll Find you my
true love” Untuk ke sekian kalinya aku melirik tulisan itu. Ukirannya tak
begitu jelas lagi. Tentu saja, tulisan itu aku ukir sekitar dua tahun yang
lalu. Tepat dihari ulang tahun ku saat ku hanya merayakannya sendiri di negeri
perantauan ini.
Tak ada hal
penting memang yang aku lakukan ketika duduk manis di bangku taman. hanya
mendengar lagu dari earphoneku dengan
volume lembut sehingga aku masih terfokus dengan novel yang selalu aku bawa
tentu saja dengan judul yang berbeda. sesekali setelah aku lelah membaca, aku
mengangkat kembali kepalaku yang sudah lama menekur dan melihat banyak pasangan
berjalan santai. Kembali aku melirik tulisan yang aku ukir, aku mencoba
tersenyum kembali.
Ucapkan apa yang kau harapkan. Pejamkan matamu
perlahan dan saat kau membuka matamu, biarkan keajaiban membuatnya menjadi
nyata..
Aku mencoba untuk
berjalan meninggalkan markasku, atau mungkin markas semua orang saat mereka
merasa sendirian. Terik matahari saat itu tidak begitu menyengat, bahkan terasa
begitu bersahabat bagi alam. Begitu menyenangkan mungkin ketika kau menemukan
pendamping hidupmu sehingga kau tak perlu berjalan sendiri di taman yang indah
seperti yang ku lakukan tepat saat ini.
Aku singgah dulu
ke sebuah mini market untuk membeli makanan ringan serta coklat untuk ku
berikan pada seseorang esok. Tepat sekali. 14 februari saat semua pasangan
merayakan hari kasih sayang itu. Betapa indahnya cinta mewarnai dunia sehingga
banyak pelangi yang dapat kau lihat setiap harinya. Dan aku, inilah kali
pertamaku menguatkan tekat untuk memberinya sesuatu. Banyak orang mengatakan
cinta itu seperti cokelat. Begitu manis saat kau bersamanya. Tapi ketika kau
kehilangan coklat dari genggamanmu, saat itulah kau kembali merasa pahitnya
hidup. Tapi aku harap, aku dapat menggenggam coklat itu setiap harinya. Bukan
menggenggam sendirian, menggenggam berdua bersamanya sehingga aku dapat
merasakan manisnya hidup dengannya.
Aku membungkus
coklat itu dengan kertas bermotiv hati berwarna pink dan ungu. Begitu indah..
Aku menyelipkan sebuah surat kecil. Disurat itu, aku tak berani menuliskan kata
cinta padanya, aku masih terlalu lugu untuk merasakan sakitnya bila aku
kehilangan cokelatku. Tapi aku selalu berharap, ia mengerti apa yang aku
rasakan. Mengerti perasaanku sepenuh hati. Mengerti harapan yang ku ukir di
bangku taman.
Aku kembali ke
apartemenku. Menyalakan lampu yang tadinya padam. Segera ku ambil laptop, aku
nyalakan dan menekan password satu persatu. Aku membuka file yang menjadi
diariku setiap harinya. Hampir semua isi catatanku mengenai pria itu. Pria yang
ku cintai secara diam-diam. Ku ketik bagaimana awal pertemuan ku dengannya, ku
ketik semua hal lucu yang kita alami, ku ketik ketika aku bersedih, ia selalu
ada untukku. Aku mencintai dia? Memang, dan aku menyadari itu. Tapi mengapa?
Cinta itu buta? Tidak! cinta tak pernah buta. Ia melihat dari sisi yang tidak
ku sadari. Tapi bagaimana bisa aku mencintainya? Ku rasa kita tak butuh
jawabannya. Perhalan perasaan kita bisa menjawab, tapi bukan fikiran.
Ku matikan
laptopku dan menuju tempat tidur. Ku padamkan lampu kamarku dan hanya
menyalakan lampu tidur. Aku menggunakan selimut dan memejamkan mataku untuk
tertidur. Sebelum itu aku berdoa terlebih dahulu serta mendoakannya. Selalu
ketika aku mendokannya, aku menanyakan pada diriku sendiri, apakah ia juga
mendoakanku? Mungkin saja iya. Tapi, siapa aku? Pastinya tidak mendoakanku.
Tapi itulah cinta ku. Aku selalu memberi tanpa harus menunggu balasan darinya.
Alarm memekakkan
telingaku hingga ku tak dapat melanjutkan mimpi indahku. Aku melirik jam
dinding yang menunjukkan pukul 7 pagi. Aku mengucek mataku perlahan dan
berusaha bangkit dari tempat tidurku. Ku gunakan sendal khusus untuk kamarku
dan berjalan menuju jendela. Aku membuka krai dan melihat pemandangan hari ini
sangat indah. Pancaran matahari yang menenangkan fikiranku. Seperti itulah
hidupku, selalu cerah seperti mentari di pagi hari. Ku bersihkan diriku dan
bergegas menuju bangku kesayanganku di taman itu.
Aku menggukanan
kaos pink polos dengan warna yang cukup lembut dipadu dengan celana jeans
panjang. Aku menggenggam sebuah novel dan sebatang cokelat yang setelah ini
akan kuberikan padanya. Tepatnya setelah aku yakin untuk memberikan ini
kepadanya. Ketika aku sampai tepat didepan bangku ku, aku terheran melihat
sebuah amplop berwarna pink yang serupa dengan warna kaosku diatasnya. Pada
amplop itu aku dapat melihat gambar hati dari pulpen bertintakan ungu. Nyaris
sama dengan bungkus cokelatku ini. Aku hanya berdiri mengambil surat itu dan
melihat bagian belakangnya “to Selvi Haztia”. Selvi Haztia? Itu namaku. Apa
mungkin ada orang lain yang bernama Selvi Haztia selain aku? Mungkin tidak.
Surat ini untukku? Mungkin saja.
Aku membuka
amplop itu dan melihat secarik kertas. Tulisannya rapi sekali. Itulah penilaian
ku pertamakali ketika melihat surat ini. Aku lepas earphone yang sedang aku kenakan. Aku fokuskan hatiku untuk membaca
secarik kertas indah ini.
Mencintai seseorang tanpa
tahu orang itu mencintai kita atau tidak sungguh menyedihkan. Andaikan aku
adalah super hero, aku ingin mempunyai kekuatan membaca fikiran, karena dengan
begitu aku bisa tahu apa yang ada difikirannya kini. Adakah aku difikirannya
kini? Tidak tidak, bukan kini. Tapi mungkin adakah aku beberapa saat terlintas dalam fiikirannya
walau tak lebih dari satu detik? Sepertinya tidak mungkin. Aku siapa? Bukan
siapa-siapa baginya. Tapi aku tak butuh itu semua. Melihat nya tersenyum aku
juga tersenyum. Meski ku tak tahu mengapa aku harus tersenyum. Mungkin kerena
saat ia bahagia, aku turut merasakannya. Di bangku ini, dia duduk mendengarkan
musik yang aku tak pernah tahu musik apa itu. Aku selalu memperhatikannya tanpa
ia sadar akan kehadiranku. Inikah cinta? Apakah aku sedang jatuh cinta? Kurasa
begitu. Aku tak tahu mengapa aku mencintainya. Tapi aku tak butuh jawaban itu.
Tak perlu ada alasan yang pasti untuk mencintanya seseorang, kan? Apa kau tahu
siapa seseorang itu? Dia adalah kau. Biarkan aku mencintaimu selamanya. Biarkan
aku berada disisimu. Mulai sekarang dan selamanya...
Aku membacanya
sangat terfokus hingga ku lupa untuk duduk sebelum membacanya. Badanku
menghadap bangku sehingga membelakangi jalan untuk pejalan kaki. Aku terkaget
membaca surat itu. Apa yang aku fikirkan sangatlah serupa dengan apa yang ia
tulis, tak ada yang berbeda. Sangat sama. Kini aku memutar badanku untuk duduk
menengakan diri dibangku indahku. Saat aku membalikkan badanku, aku melihatnya
tepat dibelakangku. Ia membalas tatapan ku dengan senyuman yang begitu indak.
Ia... Ia pria yang selama ini aku cintai. Aku cintai meski aku tak tahu
perasaannya. Apakah ia?? Ia penulis surat ini??
“Kau telah
membacanya?”
Aku hanya
mengangguk
“Apakau merasakan
hal yang sama?”
Aku hanya diam.
Aku tak tahu ingin menjawab apa. Perlahan ia membuka mulutnya untuk kembali
berbicara
“Aku sangat
menyayangimu. Aku tak tahu dari sisi mana hatiku memandangmu tapi aku tahu,
dari sisi itulah aku bisa menyayangimu setulus hatiku. Aku sangat menyayangimu”
Suara yang lembut sekali, fikiranku menjadi tenang mendengar kalimat yang
perlahan diucapkannya. Ku yakinkan hatiku untuk menjawab”
Aku juga mencintainu, sungguh aku menyanyangimu
Aku membalasnya
dengan bahasa isyarat. Aku bisu, aku tak bisa bicara menggunakan mulut, lidah
dan bibirku.
“Aku mencintaimu.
Apapun itu. Bahkan kekuranganmu sekalipun. Why do i love you? Cause when i’m
with you, i can be my self. Aku mencintaimu dengan caraku, aku menyanyangimu
dengan caraku. Dan aku tak ingin kehilangan hatimu untuk selamanya”
Aku menyambut
tangannya yang mengarah kepadaku. Aku genggam tangan itu dengan lembut. ia
membisikkan kata yang ingin aku dengar darinya
“Aku
menyayangimu”
Aku hanya bisa
menatapnya dengan senyum tulusku. Kemudian kami berjalan mengitari taman dan
menyaksikan daun daun berjatuhan tampak begitu indah. 14 februari, hari penuh
kasih sayang. Aku mencantai hari ini. Aku mencintainya. Keajaiban itu ada.
Pasti datang menghampirimu. Begitupula cinta. Sayangi ia dengan tulus, maka ia
akan lebih tulus menyayangimu.
