Laman

Selasa, 10 Juli 2012

One day without the night


            Malam.. Malam.. Dan hanya malam yang dapat menenangkan fikiran disaat semuanya terasa berbeda. Berbeda atau berubah? Atau bahkan menghilang? Mata yang tadi terpejam kini mulai terbuka perlahan dan memperlihatkan sepasang bola mata yang tampak tak begitu bahagia, tapi menyembunyikan sedikit kekesenangan. Desahan panjang terdengar setelah minghirup udara malam yang sejuk.

Mengharapkan air mengalir keatas, tak akan mungkin. Tak akan terjadi meski dunia dapat dihentikan

            Kepalanya terasa sangat berat tak mengijinkannya untuk bangkit dari perasaan yang dia sendiri tak bisa menebak. Hanya berfikir, dan mengingat apa yang terjadi. Masih memaksakan otaknya berfikir, terbanyang seulas senyum yang sangat dirindukannya dan bahkan sangat dinantikaannya.
            Dimana dia berada? Dimana pemilik senyum itu berada? Apa itu hanya mimpi? Tidak! Dia benar-benar melihat senyum itu. Dia benar-benar melihatnya disaat matahari mulai bersembunyi. Seyum yang damai. Senyum yang dapat melupakan masalahnya sejenak. Hanya sejenak.. Dan saat senyum itu menghilang, semuanya kembali seperti semula. Beban hidup mendatanginya setelah senyum itu pergi, tepat setelah senyum itu tak dilihatnya lagi.

            Dimana pemilik senyum itu berada?

 Pertanyaan itu membuat otaknya tak bisa berfikir dan tak bisa bernafas. Pertanyaan itu membuatnya tak berdaya. Tubuhnya terbaring pulas dan tak dapat mendengar keributan disekitarnya. Yang kini dapat dilakukan hanya menutup lembaran hasil pemikirannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar