Siang itu mendung. Sebenarnya langit tampak sangat cerah, tapi perasaannya yang mendung. Andina tampak begitu iri saat berada dikamar Marta. Ia melihat sebuah gaun berwarna pink muda dengan motif bungan sangat indah sekali. Itu adalah baju yang sudah lama ia idam-idamkan. Malah ia telah mengatakan kepada MArtin untuk tidak membeli baju itu. Martin tidak melihatkan baju itu kepada Andina, hanya saja Andina melihat baju itu saat ia sedang mengotak atik baju yang berada dalam sebuah kotak sederhana yang letaknya diatas lemari pakaian Marta. Bayangkan, ia telah mengatakan untuk jangan membeli baju itu, Marta masih saja membelinya. Padahal, uangnya sudah cukup untuk membeli gaun indah itu.
"Apa ini?" Andina sangat marah dengan apa yang ada dihadapannya sekrang.
"Oh, itu gaun cantik yang sudah lama ingin ku beli" Marta hanya menjawab enteng
"Jadi ini, ini yang namanya sahabat? Sudah ku peringatkan untuk tidak membeli gaun ini, kau masih tetap membelinya. Dimana hatimu?
"mengapa kau begitu mempermasalahkan hal ini? Apa salahnya aku membeli gaun yang sama?"
"Kau tidak mengerti perasaanku. Aku sudah lama menginginkan gaun itu, dan kini kau membelinya tampa memberitahuku terlebih dahulu. Ini memang hal yang sederhana, tapi aku sangat kecewa dengan apa yang kau lakukan? kau seperti mengkhianatiku."
"Kau memang egois, itu biasa saja. Mulailah untuk merelakan gaun ini. Besok aku ada acara makan malam dengan kekasihku. Pastinya aku ingin tampil cantik"
"Apa, kau mempunyai kekasih? Aku sendiri tidak mengetahui hal itu"
"Baiklah, mungkin ini saat yang tepat untuk ku ungkapkan kepadamu, Patra adalah kekasihku"
"Yang benar saja, Patra adalah kekasihku!"
"Bukankah ia telah memutuskan mu tiga hari yang lalu?"
"Kau pengkhianat, sungguh pengkhianat! Biadap, orang amcam apa kau ini? Jadi kau yang membuat Patra menjauh dariku. Mana otakmu? Mati saja kau dihadapanku!"
Andina berlari meninggalkan Marta yang tersenyum penuh arti. Enatah apa artinya, yang pasti sejak saat itu mereka tak pernah lagi bertemu. Malah Andina memaksa pindah ke sekolah lain untuk menjauhi Marta. Mereka kehilangan kontak.
4 tahun kemudian...
Andina hanya menatap hampa ke pusara ibunya. Meski kini ia hanya hidup dengan ayahnya, ia masih sering mengunjungi pusara ibunya yang terletak di sebuah kota yang sangat menyedihkan. Kenangan buruk itu, Marta.
Ia membalikkan badan untuk kembali ke mobilnya. Tapi langkahnya terhenti melihat rombongan pengantar jenazah yang salah satu diantaranya sangat dikenalinya. Itu orang tua Marta.Andina sagat heran. Ibu Marta terlihat asngat sedih, sedangkan ia tak menemukan Marta disana. Tak dapat dipungkiri, ia sangat merindukan sahabatnya. Ia menghampiri ibu Marta dan bertanya apa yang terjadi.
"Andina, kamu kemana saja? Apa kamu tau Marta sangat merindukan kamu?"
"Saya..saya juga merindukan Marta buk. Sekarang Marta dimana bu? saya ingin minta maaf atas ulah saya bu"
"Marta ada disini Nak, kami akan menguburkan ia"
Marta meninggal??
"Bu, ada apa dengan Marta bu? Mana Marta bu? Mana Marta bu?"
"Ia bunuh diri setelah diselimuti rasa bersalah kepadamu nak. Ia selalu mengatakan kalau ibu menemui kamu, berikan kotak ini padamu. Ia ingin memberikan ini saat hari ulang tahunmu"
Kotak itu? Kotak sederhana yang ia temukan diatas lemari pakaian Marta. Kotaknya kini terlihat lusuh. Kotak 5 tahun yang lalu? Kotak itu???
Andina melihat isinya dan menemukan gaun yang diimpikannya. Ia juga menemukan secarik kertas yang tulisannya sudah mulai pudar. Tapi masih bisa dibaca
Happy Birthday my best friend
Aku tau kau sangat ingin gaun ini, akankah lebih baik kalau gaun ini aku berikan untukmu sebagai hadiah ulang tahunmu, bukan? Aku harap kau menyukainya. Pasti kau sangat menyukainya. Faktanya, Aku bukan pacarnya Patra. Kami hanya berencananya untuk mengerjaimu.
Kau kini bukan anak-anak lagi. Aku bangga menjadi sahabatmu. Aku sangat mencintaimu. pakailah gaun ini saat kau menemuiku. Adalah sebuah kehormatan untukku bisa melihat,u menggunakan gaun itu
Marta, mengapa tidak kau katakan yang sebenarnya? Ini semua hanya salah paham. Andina, andai saja kau tidak terbawa emosi, kau tak akan pernah merasakan penyesalan seperti ini. Kau mencintai Marta, bukan? Harusnya kau lebih mengerti terhadap sahabatmu. Mungkin suatu saat nanti, Marta akan datang, bermain gitar bersama, berbicara bersama lagi dan melihat kau menggunakan gaun itu
