Laman

Selasa, 05 November 2013

Aku Menunggumu, Ibu


Anak kecil itu tampak sangat riang. Pasalnya ibu baru saja mengatakan akan mengajaknya ke pasar hari ini. Meskipun ia seorang anak laki-laki, tapi ia sangat menyukai pasar. Karena di sana ia dapat menemukan banyak sekali mainan, mulai dari mobil-mobilan tanpa remot, robot-robot dan permainan anak laki-laki lainnya untuk usia lima tahun.

Ia mengenakan pakaian terbaiknya dan patuh dengan semua perkataan ibunya. Anak ini sangat menyayangi ibunya. Ayahnya meninggalkannya sejak ia berusia satu tahun. Ayahknya kabur dari rumah dan tak pernah kembali. Tak ada yang tahu pria itu kemana. Sejak saat itu, sang ibu berusaha banting tulang cari nafkah demi menghidupi diri dan sang anak. Ia hanya menjadi tukang jahit. Memang tak ramai atau bisa dikatakan sepi, tapi ia tetap berusaha. 

Ketika pulang dari pasar, sang anak lebih bahagia lagi karena ibu membelikannya robot power ranger yang mungkin hanya seukuran tangan anak-anak. Tapi anak itu sangat menyukainya. Tak peduli sebesar apa hadiah itu. Baginya, permberian ibu adalah segalanya. Saat perjalanan, ia memegang mainannya di sebelah kiri dan memegang tangan penuh kasih sayang ibu di sebelah kanannya.

Tiba-tiba di jalan sang ibu teringat sesuatu, ia lupa membeli kunyit untuk member pada tahu yang menjadi menu makanan pada hari ini. Mereka yang telah berada di luar keramaian pasar, segera balik ke dalam pasar . Tetapi hanya ibu saja yang balik dengan alasan ingin cepat karena ia yakin sang anak sudah lapar dan menitipkan sang anak pada pemilik toko yang berada di luar pasar dan bisa dikatakan sedikit jauh dari pasar. Pemilik toko itu memang sabahat karibnya sejak bangku SMA dulu.

Sepuluh menit di tunggu, ibu tak kembali, dua puluh menit di tunggu ibu juga tak kembali. Sang anak yang tadi riang dengan mainan baru kini hanya duduk diam menatap mainannya. Ia merindukan ibu. Mengapa lama sekali. Datang tetangganya yang menjemput anak itu. Ia mengatakan bahwa sang ibu tertabrak truk ketika menyebrang menuju pasar dan segera di bawa ke rumah. Sang anak tetap tenang, sambil berkata “ibu akan kembali, aku di sini saja menunggu ibu. Ibu akan menjemputku di sini. Aku tak ingin membuat ibu pusing karena aku pergi tanpa ijin ibu”

Tetangganya hanya menangis menatapi kasihan pada anak itu. Hingga dewasa, sang anakpun diasuh oleh pemilik took tersebut. Ia percaya sang ibu akan kembali dan menjemputnya.

Minggu, 03 November 2013

I DO LOVE NIGHT


Malam..
Satu kata yang sebahagian orang menyukanya dan sebahagian lagi tidak. Tentu saja aku tak sendirian. Aku percaya, di luar sana juga banyak orang-orang yang menyukai malam sepertiku. Bahkan ada yang lebih fanatik dengan malam lebih dari aku mencintai malam.

Malam itu…
Tenang. Aku dapat merasakan dunia yang sebenarnya ketika malam. Dunia yang tenang tanpa ada hiruk pikuk dunia siang yang memekakkan telingaku, yang membutakan mata, membisukan lidah, membunuh indra penciumku untuk mencium aroma ketenangan serta sempurna mematikan saraf-saraf kulitku sehingga panas terbakar serta dinginnya hujan badaipun aku tak lagi bisa merasakan.

Malam itu..
Hening. Tak perlu aku membebani pikiranku dengan bunyi manusia yang berkomentar dengan sibuk perkerjaan yang dihadapinya, tentang tak puasnya pengunjung rumah makan terhadap pelayan yang  telat mengantarkan makanan atau member makanan yang salah dan yang lain apalah itu namanya. Telingaku tak perlu lagi mendengar klakson kendaraan yang selalu berbunyi ketika lampu lalu lintas telah menunjukkan hijau.

Malam itu..
Nyaman. Sebahagian besar manusia menghabiskan waktu istirahatnya disaat malam. Mereka bisa merasakan kenyamanan malam dengan kasur empuk dan selimut tebal bulu angsa yang lembut ketika ingin tidur lelap setelah seharian sibuk dengan siangnya.  Ketika malam, semua beban pikiran segera hilang. Mereka tak perlu memikirkan apa-apa yang dapat mengganggu malam yang nyaman itu. Karena hanya saat malam lah beban pikiran keluar dari pikiran mu dan tak ingin datang mengganggumu.

Malam itu..
Ajaib. Percaya atau tidak, malam itu seperti ada kekuatan magis yang membuatmu menjadi lebih bahagia dibandingkan malam bila kau menyadarinya. Ketika malam datang, kau melihat gelapnya malam seakan itu menghipnotismu untuk merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Kau akan sadar bahwa dunia tak pernah begitu kejam padamu. Ketika siang selalu menghardik dan mencaci makimu, jangan sedih. Malam masih ada dan setia untukmu. Karena malam mempunyai tugas, yaitu membuatmu merasa lebih baik dari siangmu.

Malam itu..
Indah. Ketika kau pulang dari tempat mu bekerja, les atau sebagainya saat malam hari, jangan segan untuk menatap keatas. Di sana ada bulan, di sana ada bintang. Mereka indah sekali. Langitnya perwarna hitam dengan sedikit tinta taburan biru pekat di dalamnya. Latar kanvas yang indah untuk bintang-bintang dan bulan bersandar. Bintang yang berkelap-kelip seaka berkedip padamu. Ia berusaha untuk meyakinkanmu semua akan baik-baik saja. Dan ketika kau melihat bulan sabit, itu adalah senyuman malam untuk menghiburmu. Ketika bulan purnama itu, itu menandakan bahwa kau adalah sempurna seperti bulan purnama yang bulat sempurna. Mereka selalu mengatakan bahwa kau adalah luar biasa.

Malam itu..
Sempurna.. Ia memberimu ketenangan, keheningan, kenyamanan, keajaiban serta keindahan. Malam itu sempurna. malam itu luar biasa. Mereka tak dapat kau beli. mereka hanya dapat kau tunggu dan kau tunggu setelah rutinitas siangmu berhasil kau kalahkan. Malam itu sempurna.. sangat sempurna

Itulah alasanku menyukai malam. Tak ada alasanku untuk membenci malam. Karena ketika malam, aku merasa kembali baangkit dari siang yang menguburku hidup-hidup dalam rasa lelah. Dan saat malamlah, aku merasakan bahwa aku adalah aku, bahwa aku luar biasa seperti bulan dan bintang katakan. Dan saat malamlah, aku bisa kembali bersemangat untuk melaksakan kehidupan siangku pada esok hari..

LOVE NIGHT

Senin, 29 Juli 2013

Empat.. Lima.. Enam.. Permainan Dihentikan

Gadis kecil itu kembali menceritakan apa yang dirasakannya padaku. Hari-harinya terasa begitu lama, kau tahu mengapa? tentu saja karena sesuatu yang kau anggap tidak menyenangkan akan berlangsung sangat lama. Bandingkan bila kau merasakan sesuatu yang menyenangkan, kau merasa setiap detiknya terasa sangat cepat. kadang kau beranggapan hidup tidak adil, karena penderitaan selalu lebih lama dari kebahagiaan. Sebenarnya waktu itu berjalan sama saja cepatnya, hanya saja ketika kau bahagia, kau tidak menyadari waktu itu bergerak, tapi ketika kau terpuruk, kau merasakan waktu itu lama bergerak karena kau selalu menunggu kapan penderitaan itu meninggalkanmu.

Apa yang dapat kau simpulkan? Intinya, kau egois. ralat, semua manusia itu egois, mengapa? karena kita hanya ingin merasakan kebahagiian saja tanpa ingin merasakan sedikit saja penderitaan. Dan jika penderitaan itu datang, kau akan berkeluh kesah, mengumpat bahkan menyalahkan nasib yang tengah kau terima.

Begitulah yang dirasakan anak perempuan itu. Ia selalu menunggu kapan penderitaan hasil dari permainan itu berakhir. Mungkin ia hanya duduk manis di depan kaca memerhatikan matahari berganti dengan bulan, bulan berganti dengan matahari dengan seksama. Tapi sayang, buka itulah yang dikerjakaannya. Sepenuh apapun isi pikiran gadis itu, setidaknya ia paham hidupnya bukan untuk menatap dua benda yang bercahaya di waktu yang berbeda  itu.

Hari pertama...
Kelam memang rasanya tanpa seseorang yang selalu kau dengar suaranya meski itu melalui telepon genggam. Ia yakin permainan itu memang masih berlangsung, bukan yakin, tapi tahu pasti. tapi pikirnnya memaksanya untuk memercayai bahwa permainan itu telah usai, buktinya saja ia selalau memerhatikan telepon itu dengan harapan mendapat telepon dari pria itu.Percuma, telepon genggam itu tak pernah berdering baik itu menunjukka ada telepon darinya atau pesan darinya. Sesekali hp itu berdering. Ia berharap penuh pada deringan itu. Tapi percuma, bukan pria itulah yang menghubunginya. Mungkin gadis itu harus meneguhkan hatinya bahwa pria itu tak akan pernah berdering di telepon genggamnya.

Mungkin saja -semoga hanya selama permainan gila ini berlangsung. Bersyukurlah karena ada kata "Setidaknya", contoh : setidaknya permainan ini tidak berlangsung selamanya. Setidaknya... Bila iya mungkin gadis itu belum siap menahan semua perasaannya untuk menjadi gila yang melebihi permainan aneh itu

Hari kedua...
Benar-benar seperti mati. ..
Gadis itu memang tak pernah mati ataupun mati suri, ia tidak benar-benar tahu bagaimana rasa mati yang sebenarnya. Tapi ia hanya berlogika saja "jika  seseorang mati, berarti ia tak dapat lagi merasakan apa-apa" singkat memang pemikiran itu. Ia tak merasa senang, bahkan sedihpun tak dirasakannya, ia mati rasa. Ia tak dapat merasakan apa-apa, apa itu artinya? Singkat saja, gadis itu seperti mati. dan lagi SETIDAKNYA ia tak benar-benar mati. Bahkan ia tak ingin mati. Alasannya, karena ia masih ingin menemui pria itu, bertemu dengan pria itu berbicara dengan pria itu bahkan ia tak ingin meninggalkan pria itu -atau sebaliknya

Ntah apa lebihnya pria yang kini memenuhi angannya. Ia tak begitu paham. Yang gadis itu tahu adalah ketenanga. Ia merasakan ketenangan yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Kesederhanaan pria itu membuatnya larut dalam mimpi indahnya. Senyum pria itu?? Yang benar saja, mungkin kah sebuahbsenyuman dapat membuat seseorang mencair? Gadis itu bukan es balok, aku tahu benar bahwa gadis itu manusia. Tapi bagi gadi itu, senyum pria yang sederhana itu jauh dari kata sederhana. Luar biasa. Baginya, senyum ini mampu membuatnya mencair. Jangan bayangkan gadis itu mencair menjadi air, tapi bayangkan hatinya yang telah membatu kembali mencair ketika pria itu tersenyum padanya. Ketika hatinya mencair, gadis itu dapat kembali merasakan apa itu perasaan. Dan beryukurlah permainan ini berhasil membuat hati kembali membatu...

Hari ketiga...
Gadis itu tidak terlalu merasaka kesepian dimalam hari. Setidaknya kejadian dimalam itu membuat rasa rindunya terobati. Dengan seksama, ditatapnya halaman jejaring sosial pria itu. Ia baca semua apa yang ditulis oleh pria itu. Pikirannya salah! Berhari-hari ia bergelut dengan pikiran egoisnya, "Untuk apa memikirkan seseorang yang belum tentu memikirkannya" tulisan dalam halaman pria itu membuatnya sedikit lega. Pria itu masih mengingat lagu yang sering mereka nyanyikan. Itu lebih dari cukup untuk menandakan pria itu masih memikirkannya -meski hanya terlintas beberapa detik saja dalam benaknya.

Foto profil pria telah diganti. tak ada salahnya untuk dilihatnya foto itu. Ia benar-benar tak sadar bahwa saat itu, ia tersenyum sangat tulus dari hatinya, ia kembali melihat pria itu meski hanya melalui foto. Ia bersyukur masih bisa menatap pria itu, pria yang selalu di nantinya untuk dapat bertemu suatu saat nanti. Memang suatu saat nanti, ntah kapan waktunya tiba. Ia hanya berharap. Mungkin di hari perpisahan itu. Mungkin saja... 

Hari keempat ...
Telepon genggamnya berdering sebentar. ia tidak memerhatikan karena hatinya keras mengatakan itu bukannya telepon pria -mekipun sebenarnya ia masih berharap. Telepon itu berdering lagi, masih tetap diacuhkannya. Berdering lagi, masih tetap berpura-pura tidak tahu. Berdering lagi, dan saat itulah ia mulai beranjak dari kasurnya dan mengambil telepon genggam itu. Astaga, yang benar saja, pria itu yang menelponnya dari tadi! ralat, hanya missed call. Tak peduli apa namanya, setidaknya pria itulah yang membuat telepon genggamnya berdering beberapa detik yang lalu. gadis itu masih berpikir, mungkin saja pria itu salah tekan atau tak sengaja menelponnya. Ia masih bersikukuh untuk tidak menghubungi pria itu sampai tak lama setelah itu, teleponnya berdering lagi. kali ini sebuah pesan singkat. Pria itu mengatakan ingin mengakhiri permainan ini.

Kau tahu apa yang terjadi pada gadis itu? ia hanya diam. Bahkan wajahnya tampak kosong. Ia tak tahu harus bagaimana. ia diam sejenak. Dibaca ulangnya pesan itu, kali ini ia baru sadar, berarti saat ini dan mungkin seterusnya ia boleh menghubungin pria itu lagi. Berkiriman pesan singkat atau saling menelepon. Otaknya berpikir cepat untuk memerintahkan gadis itu bahagia. ia tak menyangka hari itu berjalan sangat cepat. Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Memang mereka telah menjanjikan permainan itu berlangsung selama hampir dua minggu, tapi gadis itu tak peduli. Masa bodo dengan jadwal permainan itu, ia kembali merasakan kebahagiaan. ia kembali merasakan hidup.

Tak percuma ia berusaha sabar, ia kini mendapatkan buah manis hadiah kesabarannya..

tak usah kau takut menanti, gadis lemah itu saja berhasil menunjukkan penantiannya tak sia-sia. Berarti kau juga tak akan gagal dalam setiap episode penantian hidupmu.

Gadis itu berharap, Tuhan, semoga pria itu tidak memberikan permainan atau apalah yang mengerikan lagi padaku...

ia adalah gadis yang selalu berharap. Ia gadis lemah yang selalu berlindung dibalik harapannya. Ia tak pernah berhenti berharap karena hidupnya memang ditakdirkan untuk berharap...

ucapan terima kasih dari gadis itu untuk pria yang setia dalam pikirannya... 

Kamis, 25 Juli 2013

Satu.. Dua.. Tiga.. Permainan Dimulai

Kemarin ku mengenal seorang anak perempuan yang  berasal dari keluarga super sibuk. Secara tak langsung ia juga mengikuti setiap kesibukan orangtuanya. Sebenarnya anak itu sangat lelah. Ia harus berangkat pagi-pagi sekali bersama orangtuanya bahkan sebelum adzan subuh sehingga tak jarang ia mengerjakan shalat subuh dengan mencari mesjid di jalanan.

Anak itu sangat mencintai malam, ia mengatakan kepadaku 'betapa bodohnya aku bila melewati satu malam saja. Karena malam itu sungguh tenang, dan pada saat itu aku benar-benar merasa tenang dan kembali hidup'. Entah hidup bagaimana yang dimaksudnya, tapi aku paham, anak perempuan itu butuh ketenangan dalam hidupnya. Tak jarang kedua orangtuanya pulang larut malam sehingga ia harus hidup sendiri di rumahnya itu. Tidak besar memang, tapi baginya bangunan itu cukup nyaman meski harus ditempatinya seorang diri hampir sehari penuh.

Ia begitu iri melihat temannya membawa bekal ke sekolah yang disiapkan oleh ibu masing-masing. Berpa kali anak itu membawa bekal dalam hdupnya? Sangat jarang. Apalagi ibunya yang menyiapkan bekal-bekal itu. Jarang sekali. ia juga iri kepada teman-temannya yang ketika pulang sekolah dan saat memasuki rumah, mereka dapat melihat ibunya memasak untuk keluarga dan dapat mencium aroma sedap itu. Kejadian itu jarang sekali dirasakan gadis kecil itu.

Ia pernah mengatakan,  ia begitu bahagia ketika ibunya pulang lebih awal, mereka makan bersama di ruang tv. Gadis kecil it mencoba memulai pembicaraan. Tapi mereka terlalu kaku untuk berbicara, seperti orang yang baru saling mengenal. Dan ia mulai sadar  betapa jauh orang tuanya meninggalkannya.

Ia rapuh, bahkan sangat rapuh. Ia selalu tak punya semangat hidup karena merasa benar-benar kehilang orang tua meskipun mereka masih hidup. Anak yang malang. Tapi ia benar-benar tegar. ia tertawa di depan teman-temannya seolah tak terjadi apa-apa.

Dulu ia pernah percaya dengan seseorang yang dianggapnya sahabat, tapi orang itu mengkhianati dan bahkan meninggalkannya. Hal itu tak hanya terjadi sekali, bahkan berulang kali. Sejak itulah ia mulai menutup hatinya untuk percaya dengan orang lain.

Tapi suatu waktu, ia bertemu dengan seorang pria. Pria itu dapat menenangkannya. Tak mudah untuk gadis itu bisa memercayai orang lain. Bahkan butuh waktu sekitar satu tahun untuk bisa percaya dengan seseorang, itupun tidak sepenuhnya. Tapi pria itu bisa membuatnya percaya begitu cepat.

Seperti mimpi. gadis itu mendapatkan mimpi indah yang panjang. saat itu ia mulai menyadari bahwa ia tak sendiri. Masih ada pria itu yang akan selalu bersamanya. masih ada pria itu untuk menyelesakan semua masalahnya, masih ada pria itu yang menghilangkan rasa sepinya, masih ada pria itu yang dapat ia percaya.

Seindah apapun mimpi yang kau dapat, semuanya akan berubah menjadi lebih buruk ketika kau sadar

Hingga suatu ketika, pria itu mengajak anak perempuan itu bermain sebuat permainan, yaitu tidak ada komunikasi selama satu minggu dengan alasan agar gadis itu bisa mandiri. Apa yang terjadi ketika gadis itu mendengar sebuah permainan gila itu? ia hanya terpaku. Kalau itu bisa membuat pria itu bahagia, ia tak akan menolak. satu minggu? Pria itu bahkan memperpanjangnya hingga hampir dua minggu. Gadis itu menerima tawaran itu dengan cepat. Mengapa gadis itu mau menerima tawaran pria yang mengaku akan selalu bersamannya? Bukankah menyedihkan bila permainan itu dimainkan?


Gadis kecil itu berpikir apa yang dikatakan pria itu benar. Ia memang harus mandiri, tak boleh bergantung pada siapapun. ia akan menjadi anak manja bila terbiasa. Tapi disisi lain, ia hanya menangis merasakan betapa pedihnya apa yang ia rasakan. Bukankah permainan ini mengajarkan ia mandiri? Kalau begitu, apa gunanya ia memercayai seseorang bila ia bisa mengahadapinya sendiri? Apa pria itu akan meninggalkannya? Mungkin saja. cepat atau lambat itu akan terjadi.

Ia hanya menangis sekuat yang ia bisa. Terus.. terus.. hingga kepalanya terasa sakit telah mengeluarkan tetesan air itu.

Pria tu benar, ia bergumam tetap membela permainan yang ditawarkan pria itu. ia memang harus mandiri. Ia tak mungkin belajar mandiri setelah pria itu meninggalkannya. Ia benar. Ia harus mandiri.

dicobanya sekuat tenaga untuk melupakan pria itu untuk sementara. Kenapa harus dilupakan? Alasannya sederhana, yaitu sakit sekali rasanya bila kau benar-benar jauh dari seseorang yang berarti untukmu. jadi bila kau bisa melupakannya, kau tidak benar-benar merasakan sakit itu karna mungkin kau lupa bahwa ia penting bagimu -mekipun sebenarnya ia tak akan pernah bisa melupakan pria itu. Permainan kini sedang berlangsung. entah ia sanggup atau tidak, setidaknya ia yakin, meskipun pria itu meninggalkannya suatu saat nanti, ia pasti meninggalkan gadis itu disaat yang tepat. Gadis itu tetap percaya dengan pria itu.

Tetap percaya..

Mungkin sekarang gadis itu menunggu waktu dimana pria itu akan meninggalkannya..

Mungkin saja..

Tapi bagaimanapun, ia tak benar-benar berharap waktu itu terjadi. ia hanya berharap dapat melewati dua minggu itu dengan sempurna dan kembali menemui pria yang ia percaya itu, kembali berbagi cerita seperti dulu yang selalu mereka lakukan.

percaya..

satu kata itu yang dipegang teguhnya..

berdoa saja semua harapanna menjadi nyata dan ia bisa kembali kedalam mimpi indah yang dulu pernah dirasakannya..

Senin, 22 Juli 2013

Hidup itu Indah

Hidup itu indah, selalu indah. Tapi saat kau merasakan penderitaan, kau mulai bertanya? Apakah penderitaan itu indah? Seperinya aku tak pernah menganggap penderitaan itu indah! Kau pasti akan berkata seperti itu. 

Ya itulah hidup. Kau selalu  merasakan indahnya hidup dengan berbagai rasa.

Seperti ketika kau menyicicipi tiga skop es krim stroberry. Kau sangat menikmatnya, bukan? Apa alasan yang tepat mengapa kau menikmatinya? Semua itu karena kau tidak hanya menikmati satu rasa yang sama. Kau dapat merasakan manis terkadang kau merasakan asam. Ketika semua bersatu di lidahmu, saat itulah kau merasakan es krim itu terasa nikmat.

Bayangkan apa yang terjadi bila kaumencicipi satu rasa yang sama dalam jumlah yang luar biasa? Kau akan muak? Tentunya. Seperti kau menyicipi sepuluh bar cokelat kualitas internasional yang harganya sangat mahal. Luar biasa sekali bila kau bisa menghabiskannya. Sebelum kau menghabiskan bar-bar yang luar biasa itu, kau akan lebih dahulu dihampiri dengan rasa muak.

Apa yang dapat kau simpulkan baris tulisan pendek yang sederhana ini? Sempurna! Kau akan merasakan kebahagiaan bila kau juga merasakan penderitaan. Karna bila semua rasa bergabung akan membentuk satu rasa baru, yaitu Kebahagiaan.

Pikirkan, apa yang kau lakukan ketika semua masalah menghampirimu seperti hantu yang bergentayangan? Kau akan mencari pelarian seperti melakukan sesuatu hal yang kau anggap dapat melampiaskan semua rasa kesalmu. Mugkin saja  kau akan berteriak sekuat yang kau bisa hingga pita suaramu putus dan harus dioperasi, kau juga bisa berlari sejauh yang kau bisa. Satu lagi, kau juga bisa menulis apa yang kau rasakan.  Bisa kau tulis dalam coretan pena, dalam setiap ketikan pun bisa kau lampiaskan.

Mulailah kembangkan imajinasi indahmu ketika kau tidak dihampiri kebahagiaan. Buatlah kebahagiaanmu dengan cara mu sendiri. Asalkan cara yang kau gunakan tidak menyalahi aturan yang ada, kau bebas berkarya. Hidup itu indah, sekali lagi, campkan kalimat itu dalam hatimu.         

Selamat menikmati indahnya hidup.Biarkan anganmu berkeliling dunia mencicipi semua rasa kehidupan.

Selamat menikmati indahnya hidup. Biarkan semua rasa bercampur menjad satu dalam lidahmu. Ungkapkan setiap rasa itu dalam tumpahan kata yang akan kau tulis ataupun yang akan kau ucapkan.

Selamat menikmati indahnya hidup. Karena dengan menikmati tetes rasa kehidupan kau akan mengerti hidup yang sebenarnya

Rabu, 10 April 2013

Kecewa

Aku mencintai hidupku dibanding apapun. Aku juga mencintaimu. Tapi kau tak kan pernah bisa mengerti aku. Kau tak pernah menjadi aku. Kau adalah Kau. Tak akan pernah menjadi aku untuk merasakan apa yang ku rasakan! Karena itulah, kau tak pernah paham.

***
Aku Kaisha Asifya, seorang anak dengan sejuta harapan yang berada di angannya hingga ia tak tahu angan yang mana yang harus diraihnya untuk menjadi kenyataaan. Aku adalah gadis yang selalu terjebak dengan perasaanku sendiri. Cinta. Kata itulah yang kini menjebakku. Entah apalah aku ini, aku saja tak paham dengan diriku sendiri
***
Hari ini hari kelulusan smp, dimana aku akan memasuki jenjang sekolah yang lebih tinggi. Aku memimlih sma favorit dan terkenal di kota ku. Kota ku berhawa sejuk dengan jutaan pemandangan indah yang dapat kau lihat. Kembali ke topik pembicaraan. Aku bersahabat dengan kedua temanku, Rendi dan Aldi. aku mempunyai alasan tersendiri untuk dekat dengan mereka. Rendi, orang tuanya adalah sahabat orang tua ku. Mau tak mau, aku akrab dengannya. Dan aldi,teman akrab Rendi. Sosok ideal dimata para gadis yang memandangnya. Aku tak mengerti entah dari sisi mana gadis-gadis itu memandangnya, tapi ku rasa tak ada sesuatu yang spesial dari Aldi. 

"Ren, masuk sma mana jadinya? bener-bener gamau bareng ni? kalo gabareng, kita pisah dong? Tau ga sih lo, sulit nyari sahabat yang klop kayak kalian. Al, lo beneran mau ikutan sama Rendi? Ga ikut gw aja? Males tau nyari teman baru lagi, apalagi kalo sampe cari sahabat kayak lo lo pada"

"Ya kayaknya gitu deh Kai, gw tetap teguh pendirian. Palingan si Aldi aja yang masih nggak jelas. Lo jadinya mana al?"

"Sorry ni Kai. Gw ikutan Rendi aja. Lagian gw males sama sekolah tujuan lo, dekat banget sama rumah gw, ga serasa naik motor gw jadinya"

Sempurna! Jujur, setelah mendengar perkataan lama sebelum hari kelulusan itui, aku merasa keterpurukan yang amat sangat. Kedekatan membuat ku merasakan cinta. Merasa bahagia bila berada di dekatnya, tapi setelah ia menghilang, kau juga dapat merasakan kehilangan. Hampa, kelam, suram. Sepertilah hidup terasa. Aku tak tahu pasti apakah aku mencintai Aldi. Bila memang aku mencintainya, tak mungkin ia juga mencintai ku. 

Mencintai seseorang yang juga mencintai kita itu keajaiban. Aku sadar itu. Bahkan aku telah paham. Keajaiban tak datang semudahnya. Ya mungkin aku harus sabar menanti kepedihan-kepedihan selanjutnya ketika aku benar-benar berpisah dengannya. Hanya sabar.

Seminggu setelah kelulusan, aku mendapatkan pengumumang mengenai hasil seleksi sma tujuan. Sempurna, aku lulus dengan urutan yang tak begitu buruk. Tak lupa ku mendengar kabar Aldi dan Rendi juga lulus. Tak bisa aku munafik untuk saat ini, aku benar-benar tak ingin berpisah dengannya.

Kami tetap menjaga kontak, hingga suatu hari, diatas motor merah kesayangannya. Ia menjemputku setelah pulang sekolah. Kami menikmati senja bersama diatas kendaraan roda dua yang tak berlari kencang itu. Ku tatap langi yang mulai oranye dengan awan sebagai penghias kanvas oranye itu. Tak banyak yang kami bicarakan. Hanya hal yang tak penting untuk dibicarakan. Hanya membahas tentang sekolah dan masa lalu. Saat-saat smp.

"Kai, kangen smp nggak?"
"Banget Al. Apalagi pas sebulan sebelum Un, lo bawa gita ke sekolah. Pas jam kosong kita nyanyi sama-sama dan lo yang main gita. Hahahah. Inget banget mah gw tu"
"Gw juga. Kangen banget sama masa SMP"

Aku hanya diam. Tak tahu apa yang harus ku katakan. Jantungku berdetak sangat kencang. Mungkin sebentar lagi jantung ku akan meledak bila ku biarkan berdetak sekencang ini. Aku takut  ia menyadari kegugupan ku. Bayangkan saja, kau di bonceng dengan pria yang sangat kau cintai tapi kau tak tahu ia mencintaimu atau tidak. Jangan bayangkan ia mencintaimu atau tidak, tapi bayangkan bila kau berada di dekatnya. Tak bisa kau pungkiri, jantungmu akan berdetak kencang. 

"Kai, inget nggak kemaren gw bilang gw mau ngomong?"
"emang lo mau ngomong apa?"

Itulah perempuan. Kau pasti tahu kemana arah pembicaraannya, tapi kau berpura-pura tidak mengetahuinya karena kau ingin mendengar semua langsung dari mulutnya. Kau ingin mendengarnya mengucapkan cinta. 

Jantungku berdetak lebih kencang. Tuhan, inikah yang diarasakan bila ku jatuh cinta? Mengapa jantung ini tak ingin diam? Apa dia ingin memberitahu Aldi bahwa aku sedang berdebar menunggu ucapan selanjutnya?

"Aku mencintaimu sejak kelas sembilan. Aku tulus mencintaimu. Motor ini jadi saksi perasaanku yang tulus padamu"

Air mataku jatuh dengan mulusnya. AKu tak tahu, apa yang harus ku tangiskan. Rasanya percuma saja. Apa ini tangis bahagia? Mungkin saja! Aku bahagia saat ini. Sangat bahagia. Aku percaya keajaiban. Aku percaya dia membalas cintaku. Aku mencintaimu!! Aku sangat mencintaimu!!

"Terus?"

Semakin lama, detakannya semakin kencang. Sangat kencang hingga peluhkupun berhamburan

"Will you be mind?"

 Tuhan, apa yang tadi dikatakannya? Itu benar?  Nyatakah ini? Atau hanya mimpi? Tidak!! Ini bukan mimpi!! Ini nyata!! Aku mencintai hidupku

"Of Course"

***
Aku merasa bahagia. Sangat bahagia. Kau pasti tahu bagaimana rasanya ketika cintamu terbalas. Aku mencintainya. Sungguh. Aku sangat bahagia. Sepertinya ada kalimat yang harus ku ralat. Aku bahagia hanya diawal. Kau tahu bagaimana bila pasanganmu jenuh dengan mu dan mencari gadis lain sebagai penggantimu? Mungkin itulah yang kurasakan.

"Al pulang sama teman ya. Kasian dia pulang sendiri. Rumah kita dekatan, makanya Aku boncengin aja"
"Gapapa kok. :)"

Aku membalasnya dengan senyuman. Tak perlu ku jelaskan, hanya orang tak berhati yang menganggap senyum ku itu senyum tulus. Senyum ini hanya untuk menutupi kecemburuan ku. Awalnya aku merasa ini biasa. Tapi bagaimana ini terjadi berkali-kali padamu? Tidakkah kau merasa sangat-sangat sangat cemburu? Setidaknya kau tahu perasaanku ketika ia membertahukanku kabar ini.

***
"Al, aku boleh cerita? Aku ada masalah"

Kekasih selalu kau anggap sebagai tempat dimana kau bisa mencurahkan segala perasaanmu dan membuatmu menjadi lebih tenang. Malam ini, aku menceritakan semua masalah yang ku alami hingga aku terisak menahan tangis yang menyiksa. Ku ceritakan tanpa ada yang kututupi. Aku mengirim pesan itu dan menanti balasannya. Aku berharap ia adalah pendengar yang baik. Aku juga mengharapkan ia dapat memberi solusi yang berguna untukku.  

Tak lama, telpon genggam ku bergetar. Aku tatap layar untuk memastikan itu pesan darinya. Aku membacanya. Awalnya aku tersenyum mendapatkan balasan darinya. Aku bahagia hingga secepat kita ku buka pesan itu. Aku membacanya. Perlahan aku kehilangan senyuman yang semula. Jujur, aku merasa sangat kecewa dengan jawabannya. Sangat sangat tak menenangkan.

"Yang sabar ya"

Hanya itu. Aku terdiam. Ku tatap layar itu lama-lama berharap ia akan mengirim pesan untuk menyambung pesannya yang sangat singkat ini. Sungguh, aku benar-benar kecewa. Ketika kau antusias untuk menceritakan sesuatu, ketika kau berharap mendapat perkataan yang menenangkan, kau hanya mendapat kalimat yang sangat tak berguna. Aku yakin bagaimana kecewanya aku.

Besok siangnya, setelah aku pulang  sekolah, aku mendapat pesan darinya. Selalu aku bahagia ketika pesan itu tiba. Sperti biasa, ku buka pesan itu dengan cepat dan segera ku baca

"Kai, au pergi sama Naila sama Reisa ya. Reisa ada masalah, jadi aku sama Naila mau ngehibur dia"

What? Ada masalah? Mau menghibur? Hei, sadari aku!! Aku juga ada masalah, tapi mengapa tak kau hibur aku? Kau membiarkanku hanyut dalam tangisan yang entah kapan akan berakhir. Apa kau tak peduli denganku? Pastinya!! katu tak pernah mengerti aku!! Kau tak pernah tahu bagaimana perasaanku karna kau tak pernah menjadi aku!!

Kekecewaan ini membuat ku menangis sekeras mungkin. Mungkin ini lah aku, gadis bodong yang tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

***
Jenuh memang rasanya ketika kau tak lagi di dengar, terutama saat kau terkepung dalam masalah yang membebanimu hingga kau tak tahu mana yang harus kau selesaikan terlebih dahulu. Aku selalu percaya dengannya, aku selalu berharap ia memberikanku perhatian lebih ketika aku ada masalah seperti yang ia lakukan dengan temannya yang entah siapa namanya. Aku tak pedulu. Aku muak! Jujur, aku jijik melihatnya. Aku kecewa. Tepat malam ini, aku memintanya untuk mengakhiri kisah cinta yang tertulis dalam kertas terburuk yang pernah ada
***
Aku merasa menyesal mengakhiri semuanya. Aku merasa, aku masih membutuhkannya meskioun tak pernah ia peduli denganku. Aku mengiriminya pesan singakt, aku meminta maaf dan berharapnya menerima ku kembali. Tapi percuma. Hanya kekecawaan lagi yang ku dapatkan. Bayangkan, selama tiga hari, dengan sempurna ia dapat melupakanku. Apa itu cinta? Apa cinta mudah dilupakan begitu saja? Aku yakin, ia tak mencintaiku lagi. Wajar saja, ia telah mendapatkan gadis penggantiku yang jauh lebih sempurna. Seorang gadis yang pulang bersamanya sehingga dapat menikmati langit senja bersamaan. AKu kecawa. Rasanya sakit sekali. Pedih! Aku membencinya!!
***
jam pulang akhirnya datang. Aku tak segera pulang. Ku habiskan rasa  jenuhku di sekolah. Setelah rasanya lebih baik, barulah aku pulang. Ku tinggalkan gerbang sekolah menunggu angkutan yang akan mengangkutku. Ketika aku menunggu, aku benar-benar merasakan mimpi. Aku melihatnya!! Ok, aku bahagia. Jujur, aku masih belum bisa melupakannya. Ia tersenyum padaku, dan aku membalasnya. Tapi, segera senyumku memudar, segera mimpi buruk menghantui ku. Ia memboncengi gadis itu! Gadis yang menjadi puncak kecemburuan ku selama ini.!! Benar, mereka sudah bersama. Aku kecewa!! Sangat kecewaa!! Aku membencinya dan sangat membencinya melebihi apapun. Air mataku menetes dengan sendirinya tanpa aku perintah.

Kini, aku benar-benar menyadari. Aku tidak merasakan cinta. Karena aku yakin, cinta itu tak pernah pedih. Cinta selalu membuatmu bahagia. Bila kau merasa sakit, kau tidak merasakan cinta. Dia bukan cinta ku!! Aku membencinya. Aku membenci pria yang membuatku menangis tanpa harus ku paksa untuk menangis.

Ini lah aku. Gadis dengan sejuta kepedihan akibat cinta. Biarkan ia menjalani kisah cinta barunya dengan gadis yang telah di jumpainya. Aku hanya bisa terdiam tanpa berkomentar apa-apa. Aku tak punya hak untuk berkomentar lebih. Ini bukan cinta! Kau harus yakin.

Aku percaya, suatu saat aku benar-benar merasakan cinta. Suatu saat, aku akan bahagia karenanya. AKu yakin itu!