Laman

Rabu, 10 April 2013

Kecewa

Aku mencintai hidupku dibanding apapun. Aku juga mencintaimu. Tapi kau tak kan pernah bisa mengerti aku. Kau tak pernah menjadi aku. Kau adalah Kau. Tak akan pernah menjadi aku untuk merasakan apa yang ku rasakan! Karena itulah, kau tak pernah paham.

***
Aku Kaisha Asifya, seorang anak dengan sejuta harapan yang berada di angannya hingga ia tak tahu angan yang mana yang harus diraihnya untuk menjadi kenyataaan. Aku adalah gadis yang selalu terjebak dengan perasaanku sendiri. Cinta. Kata itulah yang kini menjebakku. Entah apalah aku ini, aku saja tak paham dengan diriku sendiri
***
Hari ini hari kelulusan smp, dimana aku akan memasuki jenjang sekolah yang lebih tinggi. Aku memimlih sma favorit dan terkenal di kota ku. Kota ku berhawa sejuk dengan jutaan pemandangan indah yang dapat kau lihat. Kembali ke topik pembicaraan. Aku bersahabat dengan kedua temanku, Rendi dan Aldi. aku mempunyai alasan tersendiri untuk dekat dengan mereka. Rendi, orang tuanya adalah sahabat orang tua ku. Mau tak mau, aku akrab dengannya. Dan aldi,teman akrab Rendi. Sosok ideal dimata para gadis yang memandangnya. Aku tak mengerti entah dari sisi mana gadis-gadis itu memandangnya, tapi ku rasa tak ada sesuatu yang spesial dari Aldi. 

"Ren, masuk sma mana jadinya? bener-bener gamau bareng ni? kalo gabareng, kita pisah dong? Tau ga sih lo, sulit nyari sahabat yang klop kayak kalian. Al, lo beneran mau ikutan sama Rendi? Ga ikut gw aja? Males tau nyari teman baru lagi, apalagi kalo sampe cari sahabat kayak lo lo pada"

"Ya kayaknya gitu deh Kai, gw tetap teguh pendirian. Palingan si Aldi aja yang masih nggak jelas. Lo jadinya mana al?"

"Sorry ni Kai. Gw ikutan Rendi aja. Lagian gw males sama sekolah tujuan lo, dekat banget sama rumah gw, ga serasa naik motor gw jadinya"

Sempurna! Jujur, setelah mendengar perkataan lama sebelum hari kelulusan itui, aku merasa keterpurukan yang amat sangat. Kedekatan membuat ku merasakan cinta. Merasa bahagia bila berada di dekatnya, tapi setelah ia menghilang, kau juga dapat merasakan kehilangan. Hampa, kelam, suram. Sepertilah hidup terasa. Aku tak tahu pasti apakah aku mencintai Aldi. Bila memang aku mencintainya, tak mungkin ia juga mencintai ku. 

Mencintai seseorang yang juga mencintai kita itu keajaiban. Aku sadar itu. Bahkan aku telah paham. Keajaiban tak datang semudahnya. Ya mungkin aku harus sabar menanti kepedihan-kepedihan selanjutnya ketika aku benar-benar berpisah dengannya. Hanya sabar.

Seminggu setelah kelulusan, aku mendapatkan pengumumang mengenai hasil seleksi sma tujuan. Sempurna, aku lulus dengan urutan yang tak begitu buruk. Tak lupa ku mendengar kabar Aldi dan Rendi juga lulus. Tak bisa aku munafik untuk saat ini, aku benar-benar tak ingin berpisah dengannya.

Kami tetap menjaga kontak, hingga suatu hari, diatas motor merah kesayangannya. Ia menjemputku setelah pulang sekolah. Kami menikmati senja bersama diatas kendaraan roda dua yang tak berlari kencang itu. Ku tatap langi yang mulai oranye dengan awan sebagai penghias kanvas oranye itu. Tak banyak yang kami bicarakan. Hanya hal yang tak penting untuk dibicarakan. Hanya membahas tentang sekolah dan masa lalu. Saat-saat smp.

"Kai, kangen smp nggak?"
"Banget Al. Apalagi pas sebulan sebelum Un, lo bawa gita ke sekolah. Pas jam kosong kita nyanyi sama-sama dan lo yang main gita. Hahahah. Inget banget mah gw tu"
"Gw juga. Kangen banget sama masa SMP"

Aku hanya diam. Tak tahu apa yang harus ku katakan. Jantungku berdetak sangat kencang. Mungkin sebentar lagi jantung ku akan meledak bila ku biarkan berdetak sekencang ini. Aku takut  ia menyadari kegugupan ku. Bayangkan saja, kau di bonceng dengan pria yang sangat kau cintai tapi kau tak tahu ia mencintaimu atau tidak. Jangan bayangkan ia mencintaimu atau tidak, tapi bayangkan bila kau berada di dekatnya. Tak bisa kau pungkiri, jantungmu akan berdetak kencang. 

"Kai, inget nggak kemaren gw bilang gw mau ngomong?"
"emang lo mau ngomong apa?"

Itulah perempuan. Kau pasti tahu kemana arah pembicaraannya, tapi kau berpura-pura tidak mengetahuinya karena kau ingin mendengar semua langsung dari mulutnya. Kau ingin mendengarnya mengucapkan cinta. 

Jantungku berdetak lebih kencang. Tuhan, inikah yang diarasakan bila ku jatuh cinta? Mengapa jantung ini tak ingin diam? Apa dia ingin memberitahu Aldi bahwa aku sedang berdebar menunggu ucapan selanjutnya?

"Aku mencintaimu sejak kelas sembilan. Aku tulus mencintaimu. Motor ini jadi saksi perasaanku yang tulus padamu"

Air mataku jatuh dengan mulusnya. AKu tak tahu, apa yang harus ku tangiskan. Rasanya percuma saja. Apa ini tangis bahagia? Mungkin saja! Aku bahagia saat ini. Sangat bahagia. Aku percaya keajaiban. Aku percaya dia membalas cintaku. Aku mencintaimu!! Aku sangat mencintaimu!!

"Terus?"

Semakin lama, detakannya semakin kencang. Sangat kencang hingga peluhkupun berhamburan

"Will you be mind?"

 Tuhan, apa yang tadi dikatakannya? Itu benar?  Nyatakah ini? Atau hanya mimpi? Tidak!! Ini bukan mimpi!! Ini nyata!! Aku mencintai hidupku

"Of Course"

***
Aku merasa bahagia. Sangat bahagia. Kau pasti tahu bagaimana rasanya ketika cintamu terbalas. Aku mencintainya. Sungguh. Aku sangat bahagia. Sepertinya ada kalimat yang harus ku ralat. Aku bahagia hanya diawal. Kau tahu bagaimana bila pasanganmu jenuh dengan mu dan mencari gadis lain sebagai penggantimu? Mungkin itulah yang kurasakan.

"Al pulang sama teman ya. Kasian dia pulang sendiri. Rumah kita dekatan, makanya Aku boncengin aja"
"Gapapa kok. :)"

Aku membalasnya dengan senyuman. Tak perlu ku jelaskan, hanya orang tak berhati yang menganggap senyum ku itu senyum tulus. Senyum ini hanya untuk menutupi kecemburuan ku. Awalnya aku merasa ini biasa. Tapi bagaimana ini terjadi berkali-kali padamu? Tidakkah kau merasa sangat-sangat sangat cemburu? Setidaknya kau tahu perasaanku ketika ia membertahukanku kabar ini.

***
"Al, aku boleh cerita? Aku ada masalah"

Kekasih selalu kau anggap sebagai tempat dimana kau bisa mencurahkan segala perasaanmu dan membuatmu menjadi lebih tenang. Malam ini, aku menceritakan semua masalah yang ku alami hingga aku terisak menahan tangis yang menyiksa. Ku ceritakan tanpa ada yang kututupi. Aku mengirim pesan itu dan menanti balasannya. Aku berharap ia adalah pendengar yang baik. Aku juga mengharapkan ia dapat memberi solusi yang berguna untukku.  

Tak lama, telpon genggam ku bergetar. Aku tatap layar untuk memastikan itu pesan darinya. Aku membacanya. Awalnya aku tersenyum mendapatkan balasan darinya. Aku bahagia hingga secepat kita ku buka pesan itu. Aku membacanya. Perlahan aku kehilangan senyuman yang semula. Jujur, aku merasa sangat kecewa dengan jawabannya. Sangat sangat tak menenangkan.

"Yang sabar ya"

Hanya itu. Aku terdiam. Ku tatap layar itu lama-lama berharap ia akan mengirim pesan untuk menyambung pesannya yang sangat singkat ini. Sungguh, aku benar-benar kecewa. Ketika kau antusias untuk menceritakan sesuatu, ketika kau berharap mendapat perkataan yang menenangkan, kau hanya mendapat kalimat yang sangat tak berguna. Aku yakin bagaimana kecewanya aku.

Besok siangnya, setelah aku pulang  sekolah, aku mendapat pesan darinya. Selalu aku bahagia ketika pesan itu tiba. Sperti biasa, ku buka pesan itu dengan cepat dan segera ku baca

"Kai, au pergi sama Naila sama Reisa ya. Reisa ada masalah, jadi aku sama Naila mau ngehibur dia"

What? Ada masalah? Mau menghibur? Hei, sadari aku!! Aku juga ada masalah, tapi mengapa tak kau hibur aku? Kau membiarkanku hanyut dalam tangisan yang entah kapan akan berakhir. Apa kau tak peduli denganku? Pastinya!! katu tak pernah mengerti aku!! Kau tak pernah tahu bagaimana perasaanku karna kau tak pernah menjadi aku!!

Kekecewaan ini membuat ku menangis sekeras mungkin. Mungkin ini lah aku, gadis bodong yang tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

***
Jenuh memang rasanya ketika kau tak lagi di dengar, terutama saat kau terkepung dalam masalah yang membebanimu hingga kau tak tahu mana yang harus kau selesaikan terlebih dahulu. Aku selalu percaya dengannya, aku selalu berharap ia memberikanku perhatian lebih ketika aku ada masalah seperti yang ia lakukan dengan temannya yang entah siapa namanya. Aku tak pedulu. Aku muak! Jujur, aku jijik melihatnya. Aku kecewa. Tepat malam ini, aku memintanya untuk mengakhiri kisah cinta yang tertulis dalam kertas terburuk yang pernah ada
***
Aku merasa menyesal mengakhiri semuanya. Aku merasa, aku masih membutuhkannya meskioun tak pernah ia peduli denganku. Aku mengiriminya pesan singakt, aku meminta maaf dan berharapnya menerima ku kembali. Tapi percuma. Hanya kekecawaan lagi yang ku dapatkan. Bayangkan, selama tiga hari, dengan sempurna ia dapat melupakanku. Apa itu cinta? Apa cinta mudah dilupakan begitu saja? Aku yakin, ia tak mencintaiku lagi. Wajar saja, ia telah mendapatkan gadis penggantiku yang jauh lebih sempurna. Seorang gadis yang pulang bersamanya sehingga dapat menikmati langit senja bersamaan. AKu kecawa. Rasanya sakit sekali. Pedih! Aku membencinya!!
***
jam pulang akhirnya datang. Aku tak segera pulang. Ku habiskan rasa  jenuhku di sekolah. Setelah rasanya lebih baik, barulah aku pulang. Ku tinggalkan gerbang sekolah menunggu angkutan yang akan mengangkutku. Ketika aku menunggu, aku benar-benar merasakan mimpi. Aku melihatnya!! Ok, aku bahagia. Jujur, aku masih belum bisa melupakannya. Ia tersenyum padaku, dan aku membalasnya. Tapi, segera senyumku memudar, segera mimpi buruk menghantui ku. Ia memboncengi gadis itu! Gadis yang menjadi puncak kecemburuan ku selama ini.!! Benar, mereka sudah bersama. Aku kecewa!! Sangat kecewaa!! Aku membencinya dan sangat membencinya melebihi apapun. Air mataku menetes dengan sendirinya tanpa aku perintah.

Kini, aku benar-benar menyadari. Aku tidak merasakan cinta. Karena aku yakin, cinta itu tak pernah pedih. Cinta selalu membuatmu bahagia. Bila kau merasa sakit, kau tidak merasakan cinta. Dia bukan cinta ku!! Aku membencinya. Aku membenci pria yang membuatku menangis tanpa harus ku paksa untuk menangis.

Ini lah aku. Gadis dengan sejuta kepedihan akibat cinta. Biarkan ia menjalani kisah cinta barunya dengan gadis yang telah di jumpainya. Aku hanya bisa terdiam tanpa berkomentar apa-apa. Aku tak punya hak untuk berkomentar lebih. Ini bukan cinta! Kau harus yakin.

Aku percaya, suatu saat aku benar-benar merasakan cinta. Suatu saat, aku akan bahagia karenanya. AKu yakin itu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar