Laman

Selasa, 18 Januari 2011

aku & kedua alamku


Siang ini, matahari sangatlah terik. Tapi, cahaya yang menyilaukan itu tidak ku rasakan sedikitpun. Tubuhku terasa sangatlah ringan untuk mengais sampah-sampah yang terkumpul di tempat pembuangan sampah tepatnya sekitar 2 kilo dari gubuk kemuh kecil yang ku tingggali. Ya! Pemulung adalah pekerjaanku. Bergelut dengan bau sampah tidak masalah bagiku demi untuk menghidupi diriku dan kedua adik-adikku.

Besoknya, ku tatapi lekat-lekat wajah adik-adikku yang sepertinya baru saja selesai manangis atas kecelakaan yang menimpaku kemarin. Aku pulang terlalu larut sehingga aku merasakan sakit kepala yang amat sangat. Aku singgah sebentar ke sebuah toko untuk membeli makanan yang bisa dikatakan murah. Ketika pulang dari toko itu, tubuhku terasa berputar-putar sehingga aku tak bisa berjalan dengan sempurna. Terdengarlah olehku bunyi yang sangat keras dari sebuah mobil yang berada dibelakangku. Setelah bunyi itu berhenti, tubuhku terlontar sangat jauh. Kepala ku terbentur dengan sesuatu benda yang sangat keras yang kurasa benda itu adalah batu besar. Setelah itu semua, aku merasakan tubuhku melayang sehingga aku tidak dapat merasakan apa-apa. Tapi, aku bisa mendengar suara teriakan orang-orang dengan sangat keras..

“Woy, Jangan kabur lu! Dasar lu orang tabrak lari! Tanggung jawab woy!!” kata salah seorang saksi mata yang sepertinya melihatku. Hmm.. ternyata orang itu tabrak lari. Betul betul orang yang tak punya tanggung jawab.

Para warga yang melihatku pun langsung menggendong dan membawaku ke rumah sakit. Yup! Tanpa sadar, aku ternyata bisa mlihat diriku yang sedang dibawa kerumah sakit. Bagaimana bisa aku melihat diriku?? Jawabannya sangat mudah! Yang melihat diriku bukanlah aku. Tapi, nyawaku atau arwahku. Aku melihat diriku terbujur kaku yang tampak tak sadarkan diri. Akupun pergi berlari menuju gubukku tanpa menghiraukan kabar jasadku.

Kumasuki gubuk tanpa membuka pintu, cukup dengan menembus dinding gubuk. Tak ada satupun yang dapat melihatku, tapi semua orang dapat merasakan kehadiranku.

“Kak Kay, kok kak Zota lama sekali sih pulangnya? Aku jadi ngerasa sesuatu yang nggak nak nih!” ujar Feqa, adik perempuanku yang paling kecil.

“betul Feq. Kakak juga heran. Kakak juga merasakan hal nggak enak nih. Apa jangan-jangan, kak Zota…??” balas Kay yang belum sudah.

“hu, Kak Kay!! Jangan fikir yang nggak-nggak deh! Nggak boleh kayak gitu.. perkataan adalah doa. Jadi, kalo mau ngomong yang baik-baik donk! Jangan doain kak Zota yang nggak-nggak!” sambut Feqa yang memutuskan pembicaraan Kay.

“ya deh dek! Kakak minta maaf. Sekarang kita doa aja ya. Semoga kak Zota aman-aman aja. Huaahh!!! Udah jam 9 malam Feq. Kalo udah ngantuk, mendingan kamu tidur dulu. Biar kakak yang tunggu kak Zota pulang. Lagian, wajah kamu udah ngantuk kayaknya. Ok feq..?!” kata Kay dengan nada suara yang sangat menunggu kehadiranku.

Melihat pembicaraan itupun, aku serasa ingin menangis. Ingin rasanya aku berada di dekat merake dan tidur malam bersama mereka. Aku ingin sekali mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Tapi??? Baiklah. Aku akan mengatakan kepada mereka untuk menenangkan hati mereka yang sedang gelisah.

“Feq.. Kay.. Kakak disini baik-baik saja kok! Kalian nggak usah cemas ya! Kakak janji, besok kakak akan pulang. Kay, kamu nggak usah tunggu kakak pulang. Lebih baik kamu tidur saja dulu. Selamat tidur adik-adikku yang sangat kucintai. Mimpi indah ya!” ujarku kepada mereka dengan meneteskan beberapa butir air mata

“Feq, apa kamu mersakan kehadiran kak Zota?” Tanya Kay yang tampaknya hampir menangis.

“aku merasakannya kak. Aku merasakan kak Zota berbicara padaku bahwa kak Zota aman-aman saja. Hatiku merasa sangat tenang kak.” Jawab Feqa dengan senyum manisnya sambil menghentikan jalannya menuju kamar.

“syukurlah kalau kamu merasakannya. Baiklah! Sekarang kamu tidur ya! Mimpi indah feqa ku sayang” ujar Kay dengan nada suara yang sepertinya telah mempunyai jiwa sebagai kakak pelindung bagi Feqa.

Mendengar percakapan itu, tak kuasa rasanya aku meninggalkan mereka. Aku masih sangat menyayangi adik-adikku. Tak kuasa aku membiarkan meraka berjuang hidup dalam keadaan yang tak mudah seperti yang dibayangkan. Butiran air matapun telah mengalir deras di pipiku. Ingin kurangkul kedua adikku. Ingin aku berada tidur di samping mereka. Tapi aku tak bisa.

“dek! Jaga diri ya!”

Akupun meninggalkan adikku dan pergi melihat diriku (tepatnya tubuhku) yang terkapar dirumah sakit. Kutatapi diriku yang tampak lusuh dengan dihiasi cat warna merah yang disebut darah di atasnya. Salah satu dari tanganku dimasukan sebuah jarum yang dihubungkan dengan sebuah benda yang tampak mengeluarkan garis-garis yang naik turun. Aku tak tau apa gunanya alat itu, yang pasti aku melihat orang-orang selalu melihat alat itu.

Duduk lah disebelahku Jode yang sedang tertidur, Sahabatku yang sama-sama pergi untuk mencari uang di tempat kumuh itu. Tapi, bagaimana dia bisa tahu aku ada disini? Perasaan saat aku berjalan, aku tidak menemukannya! Ahh!! Tak penting. Sekarang yang paling penting adalah bagaimana aku bisa hidup kembali dan bisa bertemu dengan adik-adikku! Bagaimana bisa aku mengulang hidupku lagi??

Jode pun terbangun dari tidur nyenyaknya? Apakah dia terbangun karena kehadiranku? Wah, tapi ku rasa tidak mungkin! Bisa jadi Jode terbangun karena sudah tidak ngantuk lagi.. Tapi, mana mungkin? Sekarang kan baru jam 11 malam? Alah, tak usah difikirkan!

“udah banggun. Jod”? Tanya salah seorang orang yang tidak ku kenal. Tapi mungkin kenalan Jode.

“iya mas! Mas, tolong jaga Zota ya! Aku mau ke rumah Zota dulu. Mau memberitahukan kadaan Zota ke adik-adiknya.” Pinta Jode ke orang itu.

“jod? Apa kamu nggak salah tuh? Udah malam kan. Kasian kamu ganggu adik-adiknya tidur.” Bantah orang itu.

“nggak apalah mas. Lebih kasihan lagi kalau adik-adiknya nggak tahu keadaan Zota. Mereka harus tahu secepat mungkin mas! Aku pergi dulu mas.” Ujar Jode dengan keras kepalanya.

“heyy!!!!.. huhftt.. malah pergi.. nggak apa lah! Hati-hati jod.” Jawab pelan pria itu.

Apa?? Jode mau ngadih tau ke adik-adik aku? Jangan lah Jod! Kasihan kan merekanya!! Apa reaksi mereka mendengat aku ada dirumah sakit?? Tak bisa aku bayangkan.

Diperjalanan, aku terus mengikuti kemana Jode pergi. Dia berjalan cepat tapi sesekali berhenti dan mengusap keringatnya. Bukan!! Itu bukan keringat! Tapi air matanya. Tak ku sangka ternyata Jode juga menangisi kejadian ini. Nada suaranya seperti terisak-isak.

Sesampainya sampai ke gubukku ku, Jode menarik nafas perlahan dan mengetuk pintu rumahku. Tokk..tokk.. terdengar suara keras dari pintu gubukku. Feqa yang mendengar itupun langsung merasa takut dan segera membangunkan Kay yang tampak terlelap.

“kak kay! Ayo bangun.. ada orang diluar. Aku takut sendirian ayo bangun kak!” kata Feqa yang tampak ketakutan.

Merekapun langsung keluar dengan pelan-pelan. Bunyi ketukan pintu itupun semakin keras dan mereka semakin ketakutan.. Dengan tangan yang masih gemetaran, Kay memberanikan diri untuk membuka pintu. Sedangkan Feqa berada di belakangnya.

“1…2……3!!!! Fiuh.. Kak Jode ternyata. Ada apa kak? Kok malam-malam kesini?? Terus, kok matanya sembab kayak baru siap nangis gitu??” Tanya Feqa yang tampak keheranan dengan perasaan yang seikit lega..

“oh ya kak, ngomong-ngomong, kakak ngeliak kak Zota nggak? Dari tadi kak Zota belum pulang-pulang juga. Aku takut kak Zota kenapa-napa!” Tanya Kay lanjut.

Mendengar kedua pertanyaan adik-adikku, aku melihat Jode yang tampaknya sedang membendung air mata. Apa Jode merasa sedih atas keadaan aku dan adik-adikku?? Aku tidak tahu pasti. Yang aku tahu adalah Jode ingin memberitahukan keadaanku pada adik-adikku. Reaksi mereka????? Aku tak ingin melihatnya.

Akupun sedikit menjauh dari Jode, Kay dan Feqa. aku harus bisa melihat kenyataan ini meski aku dalam bentuk nyawa bebas yang melayang.

“dek, sebenarnya kakak takut mengatakan semuanya. Tapi kalian juga harus mengetahuinya. Kak Zota….??!!! KECELAKAAN!” dengan nada suara yang sepertinya sedikit berteriak sembil menangisi semuanya..

Feqa dan Kay pun langsung menangis. Feqa.. airmata harus mengalir dipipi indah yang mulus itu. Sedangkan Kay, melupakan perkataan yang ku ucapkan kepadanya “laki-laki tak boleh menangis, sayang”. Apakah tidak ada respon lain selain menangis apabilka mendengar kabar seperti itu?? adik-adikku sayang, jangan menangis. Kakak ada disini. Kaka janji tidak akan meninggalkan kalian. Apapun yang terjadi, kakak janji. Walupun itu tak mungkin adanya.

“terus, sekarang kak Zota dimana?? Apa kak Zota masih hidup? Kak Zota kan pernah berjanji pada kita bahwa tak akan meninggalkan kita berdua saja!! Ya kan kak Kay?” ujar Feqa yang tampak polos dengan ucapannya itu.

“kak Zota masih selamat. Tapi kak Zota masih koma. Kakak tak yakin kak Zota bisa selamat. Tapi, kakak akan selalu berdoa agar kak Zota bisa berada di sini lagi. Sekarang, kita istirahat dulu. Besok kita akan melihat keadaan kak Zota. Jangan khawatir. Disana ada yang menjaga kak Zota kok.” Ucap Jode yang ingin menenangkan adik-adikku.

Akupun langsung berlari meninggalkan mereka. Aku langsung meilaht tubuhku yang tertidur lemah. Aku berdoa kepadaMu. Aku mohon kepadaMu. Aku sangat mencintai adik-adikku. Jadi, biarkanlah aku bersama mereka. Aku mohon. Kupanjatkan doaku padaNya sembari melihat tubuhku dan memikirkan adik-adikku.

“ya Allah.. hamba tahu hamba adalah makhluk yang lemah. Tidak ada apa-apanya dibandingkanmu ya Allah. Hamba mohon, biarkanlah hamba hidup 1 kali saja ya Allah. Hidup dan mati hamba hanya padamu. Bersembah sujud ku padaMu ya Allah. Hamba mohon, kabulkan ya Allah”

Begitulah pintaku padaNya. Aku berusaha tidur di atas tubuhku agar aku dan tubuhku bisa bersatu lagi. Tapi, percuma. Apakah ini akhir hidupku?? Apakah ini akhir hidupku?? Hanya itulah yang dapat ku ucapkan.

Seketika itu, sebuah tali besar yang tampak bercahaya putih menghampiriku dan membawaku terbang. Ku lepaskan tali ini dari tubuhku, tapi tali itu semakin membawaku keatas. TERBANG. Itulah yang selalu ingin ku rasakan. BEBAS. Itulah harapanku selama ini. Ketika aku erasa ditarik keatas, aku merasakan keduanya.

Tempat yang indah, luas dan damai. Disitulah aku berhenti. Kutatapi keadaan disekitarku. Langkahku terhenti ketika ku melihat sebuah makhluk besar berambut panjang yang acak-acakkan. Tampang yang sangat mengerikan itu membuat ku berbalik arah dan membuatku menanbah kecepatan untuk berlari dan ingin meninggalkan tempat ini. Gagal. Satu kata itu yang menjadibhasilnya. Tempat itu sangat luas. Tak bisa aku kabur dari sini.

“zota..” bunyi suara yang sangat halus

“siapa disana?? Ada apa?? Ku mohon.. jangan ganggu aku.. aku tidak pernah menakut-nakuti kalian. Jangan takuti aku.” Jawabku yang sangat ketakutan.

“zota, putar badanmu. Lihat siapa di belakangmu” suara itu datang lagi.

Akupun berputar badan dan memicingkan mataku. Aku tidak ingin melihat makhluk itu. aku sangat takut. Ibu.. aku takut. Aku sangat takut. Aku ingat bagaimana saat ibu melindungiku ketika aku merasa sangat ketakutan. Aku harap, ibu ada disampingku saat ini dan melindungiku.

“zota, buka matamu sayang. Tak usah takut. Aku tidak akan jahat padamu” suara itu terdengar lagi. Dengan pelan, kubaka mataku itu. ku hilangkan rasa takutku.

“kyaaaaaa!!!!! Kamu siapa???” teriakku takut. Makhluk aneh itu ternyata. Suaranya saat indah. Tapi, aku tetap takut melihat wajahnya.

“jangan takut Zot. Aku adalah malaikat yang akan mengabulkan keinginanmu atas izinNya. Kamu tak usah cemas. Lihatlah yang ada di sebelahku.” Suruh malaikat itu.

“ibu!!!!!!! Tapi, bagaimana bisa??” Tanya ku heran.

“zota, ibu selalu ada di sisimu. Ibu mengetahui apa yang menimpamu sekarang. Malaikat ini mnyuruh ibu yang sedang cemas dengan keadaan mu untuk bertemu kamu.” Jawab ibu.

“betul Zota.. ibumu ada disini. Begitupun dengan tubuhmu” ucap malaikat itu.

“tubuhku yang tampak lemah. Tak yakin rasanya bila aku bisa hidup lagi. Aku tak yakin!” ucapku dengan sedikit senyum kecil yang memaksa dengan air mata indahku.

“apa bila benar itu maumu, Dia masih akan memberimu hidup.percayalah padaNya. Dia telah medengar doa tulusmu itu. jangan menangis. Pandangilah tubuhmu baik-baik sembari berdoa padanya.” Suruh malaikat itu.

Aku masih tidak yakin akan keberadaanku di alam itu. aku juga tidak yakin bahwa aku selamat. Tapi, aku melaksanakan perintah dari suara itu. ku tatapi jasadku lekat-lekat sembari berdoa padanya. Tiba-tiba…. Kyaaaa!!!! Aku terjatuh.. tepatnya aku ditarik oleh tubuhku yang tengah menungguku di tempat tidur itu..

“argghh!!! Sakit sekali..” ujarku pelan.
Adik-adik yang tampak sedih langsung menghapus air mair matanya dan segera menghampiriku dengan memeluk tubuhku. Sakit masi ku rasakan.

“buka matamu pelan-pelan.” Ujar dokter yang berada di kamarku

Dengan pelan kubuka mataku, kupandang indahnya dunia yang sempat terhenti. Kupegang kepalaku yang masih dibalut perban dengan rasa sakit yang masih terasa.

“kak zota!!!!” sontak Feqa dan Kay.

“kak, aku sangat merindukan kakak.. aku ingin melihat kakak yang ceria lagi. Dan akhirnya aku masi bisa melihatnya” ujar Kay dengan wajah senangnya..

Senangnya hatiku bisa melihat mereka lagi. Serta Jode, sahabat setiaku. Kutatapi Jode dengan senyumku yang mengucapkan terimakasih.

“Biaya nya bagaimana? Aku tidak punya uang!!! Dan, berapalama aku sudah disini?” tanyaku dengan sedikit cemas.

“kamu sudah koma selama 5 hari. Kalo soal biaya, kamu tenang saja. Aku telah berkompromi dengan dokter yang ada disini. Syukur salah satu dokter ingin membayarnya” ucap Jode dengan senyum senang.

Terima kasih tuhan. Engkau telah memberihan sebuah pengalaman baru kepadaku. Terima kasih enkau telah memberikanku hidup lagi. Tak akan kulupakan apa yang terjadi pada hidupku ini. Inilah kisah ku yang akan kumulai. Kenangan yang lama, akan menjadi kenangan indah yang akan selalu kukenang. AKU DAN KEDUA ALAMKU.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar