setelah lama menunggu, malampun akhirnya datang. Kubuka lebar mataku yang tengah terkantuk agar tidak tertidur. Didepanku tersedia kopi panas serta makanan ringan yang akan membantuku serta menemaniku hingga sosok itu datang.
Waktu telah menunjukkan jan 12 pm. Mataku terasa sangat berat. Tanpa ku sadari aku telah tertidur dengan puasnya.
Sontak aku terjaga mendengar teriakan perempuan yang sangat keras berasal dari dapur. Tak ku hiraukan rasa takutku dengan berlari kencang ke arah sumber suara. Sesampainya di dapur, aku tak menemukan apapun yang janggal. Semua berada pada posisi biasanya.
Tapi, itu hanya beberapa menit saja. Semuanya berubah saat hujan deras tiba. Tiba-tiba di rumahku terdapat atap bolong persis seperti di kelasku.
Tapi, sesuatu yang anehpun tiba. Tetesan air merah mulai jatuh dari loteng yang bolong itu. tetes air itu tepat jatuh di hadapanku. Ku setuh air itu,
dan setelah ku sadari itu adalah darah.
Terdengar suara wanita yang sedang tertawa. Sontak bulu kudukku merinding dan aku tidak bisa melangkahkan kaki untuk melarikan diri. Tubuhku kaku. Tak dapat digerakkan.
“jangan tunjukkan wajah cemasmu bila melihatnya.”
Aku benar-benar teringat dengan perkataan bapak penjaga sekolah. Aku hanya
dapat mengucapkan satu kata dalam hatiku
“jangan takut.. ayo kevy!! Kamu nggak boleh takut!!” ucapku penuh semangat dalam hati.
“huh! Ternyata kamu anak yang bernama kevy yang telah melihat sosok asliku yang berada di atas loteng bolong di kelasmu! Sial sekali nasibmu hari ini.
Bersiaplah untuk mengakhiri semua hidupmu” jawab sosok itu yang berada persis di sampingku sambil berbisik pelan di telingaku.
Tak bisa ku berkata-kata. Keringatku semakin banyak. Mataku tertutup. Buku kudukku merinding. Sekali lagi, aku terkaku.
“tampaknya kau ketakutan anak muda! Ayo lah.. ini terakhir kalinya kau dapat melihat sosok asliku yang akan mengakhiri hidupmu tepat pada mala mini” ujarnya dingin.
Ku beranikan diriku untuk mengucapkan beberapa kata agar dia tidak tampak wajahku yang sangat ketakutan. Seperti kata bapak penjaga “jangan sampai dia tahu kalau kamu sedang cemas”
“huh.. tidak! Aku tidak cemas ataupun takut. Yang aku herankan adalah, mengapa aku? Ku rasa, aku tak pernah melihat wajahmu itu” jawabku tenang
“huh! Kau tidak melihat? Jangan bohong padaku. Ingat! Ini adalah detik terakhir mu untuk hidup di dunia ini. Jangan katakana wujud asliku pada orang yang akan kau hantui selanjutnya!” jawabnya yang tampak marah.
“Sungguh! Aku tak pernah melihat wajahmu!” jawabku heran
“huh!! Kevy..kevy!! sulit bicara denganmu! Apa benar kau tak pernah melihat wanita menggunakan baju seragam guru yang ada di sekolahmu bekerja dengan membawa sebuah obor yang bercahaya putih pagi-pagi di sekolahmu?? Aku dan obor putihku??” tanyanya lagi
Aku diam sejenak. Lalu aku kaget! Aku benar memang sudah melihatnya melintas di depan kelasku! Aku melihatnya. Obor aneh yang bercahaya putih!!
“Mengapa kau tampak kaget kev?? Betul kan kau sudah melihatnya?”
“ya! Aku memang sudah melihatmu! Tapi, siapa kau sebenarnya?”
“kau orang awam yang tidak tahu apa-apa. Aku adalah FOREA POELA. Apa kau kenal?”
“ibu forea! Aku tahu. Kau adalah mantan kepala sekolah di sekolahku. Yang meininggal tanpa sebab tepat di lokalku”
“huh! Ternyata kau tahu juga! Sungguh malang nasibku yang mati karena penjaga sekolah yang bodoh itu serta Riwa yang tak tau apa-apa”
“Maksud mu?”
“ya! Dulu aku, Riwa dan leo si penjaga sekolah yang bodoh itu adalah sahabat akrab, tapi tidak lagi setelah mereka melakukan sesuatu yang sangat ku benci”
“apa itu?”
“mereka mengetahui bahwa ku adalah seorang pecundang dan penakut. Saat itu, mereka menyuruhku dating ke sekolah dengan alas an ada urusan kerja. Waktu ku datang, mereka menyuruhku masuk ke lokal mu sekarang. Mereka mengerjaiku dengan meninggalkan aku sendiri di kelas itu dan mengunciku hingga aku ketakutan. Lalu mereka datang dengan nada suara yang tertawa keras. Aku yang ketakutan pun berubah menjadi emosi lalu berniat untuk membunuh mereka. Tapi, aku memang sangatlah bodoh. Saat mereka ku rasa sudah mati, akupun pulang dngan tubuh berlumuran darah. Bodohnya aku yang membiarkan penjaga sekolah menusukku dengan pisau hingga aku mati.”
“huh! Sungguh mengerikan” jawabku tenang
“memang! Akhirnya aku tewas di lokalmu. Aku tak tahu pasti apa alasannya membunuhku. Tapi aku merasa mereka berencana untuk membunuhku karena iri dengan jabatanku yang menjadi kepala sekolah terkenal! Lalu merka menyimpan jasadku di loteng kelasmu. Tepatnya loteng bolong itu merka bikin untuk memasukkan tubuhku. Serta menggunakan pengawat agar jasadku tidak berbau”
“jadi, kau yang menabrak ibu iwa hingga masuk rumah sakit?”
“yup, Benar sekali anak muda! Aku ingin sekali membalaskan dendamku padanya. Tapi, sial! Leo segerang menolongnya!”
“tapi, apa hubungannya dengan ku? Aku yang tidak mengetahui cerita itupun menjadi seorang korban”
“anak muda, kau telah mengetahui sosok diriku! Tak seorangpun yang ku ijinkan untuk melihat tubuhku”
“jika itu inginmu, bunuhlah aku! Setidaknya aku mengetahui tubuhmu yang bau itu dengan jiwa penakutmu yang mengandalkan kekuatan membunuhmu”
“Kevy Diole Tiepha, ucapkan permohonan terakhirmu! Aku akan mengabulkannya, kecuali jika kau ingin bebas, tak akan ku selamatkan.”
“aku mohon, setelah kau membunuhku, jangan ganggu sekolahku lagi! Jangan ganggu bapak penjaga dan juga bu iwa! Serta jangan ganggu teman-temanku yang merasa ketakutan bila berada di kelas dan lenyaplah kau dari dunia ini”
“baiklah kevy! Saatnya kau untuk mati”
Tak terasa, akupun telah tewas. Nama indah ku Kevy Diole Tiepha terpajang rapi di batu nisanku. Teman-taman tampak sedih dengan kematian ku. Tapi, tak ada dari mereka yang mengetahui panyebab kematian ku. Tapi, ku rasa bu iwa dan bapak penjaga mengetahui penyebab kematian ku. Satidaknya aku merasa sangat lega melihat atap kelas yang tak pernah terbuka lagi. Sekarang bu
FOREA POELA telah tak ada lagi di loteng itu. loteng bolong itu adalah markas ku sekarang dan untuk selamanya. Aku bisa melihat teman-temanku belajar dengan tenang dan bahagia. Serta, aku bisa berbagi tempat tinggal serta bersahabat dengan arwah gentayangan lainnya seperti aku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar