Di tengah-tengah hutan belantara, desa terpencil, tempat pinggiran, di situlah gadis berparas cantik, mata hitam kecoklatan, rambut hitam, panjang yang tergerai indah, hidung mancung, dan bibir kecil yang berwarna kemerahan itu tinggal. Nada Vitya Nagista, begitulah nama panjang dari gadis yang akrab di sapa Nada itu.
“Hallo, Nyak!!! Kemana sih?? Sini bantu gue dong!! Lho kemana??” teriakan Nada itu membuat Ibunya yang sedang di dapur berlari mendekatinya.
“Kenapa Nak?” Tanya Ibunya pelan.
“Eh, lu masak apaan?? Gue laper nih!” Tanya balik Nada dengan tekanan suara yang sangat keras.
“Ibu masak singkong rebus” jawab ibunya lagi dengan tampang yang cemas agaknya. Mungkin karena cemas Nada akan marah bila dia mendengar kata singkong rebus yang kesekian kalinya.
“What?? Hallo!!! Singkong rebus?? Apaan sih tu?? Gak modal banget sih makanan lu.“ sekali-sekali beli roti napa!?” bentak nada kepada ibunya.
Ibu Nada yang terdiam kaku. Dia tak berani mengungkapkan sepatah katapun. Dia sangat menyayangi Nada. Tapi, berbeda dengan Nada. Dia sangat membenci ibunya itu. penyebabnya adalah kematian ayahnya. Nada menganggap ibunya itulah yang menyebabkan kematian ayahnya. Tiga tahun yang lalu ibunya mengalami demam yang sangat tinggi, mereka tak punya uang untuk pergi berobat ke dokter. Lalu, ayahnya yang hanya seorang penebang pohon pun bekerja keras untuk mendapatkan uang demi pengobatan ibunya. Tapi, pada saat ayahnya menebang sebuah pohon, nasib naas menimpa ayahnya. Pohon itu jatuh kearah ayahnya, sehingga ayahnya tak dapat lagi mengelakkan benda panjang yang keras itu menghantam kepalanya. Alhasil, dia tewas.
Nada sangat dekat sekali dengan ayahnya itu, itulah sebabnya Nada menganggap ibunya sebagai penyebab kematian ayahnya. Saat ayahnya meninggal, Nada menangis dan mengatakan “Coba kalau ibu tak sakit, ayah tak akan bekerja sekeras ini demi ibu!! Ibu pembunuh!!”, Kepada ibunya. Ibunya hanya diam meratapi dirinya dan suaminya. Mau tak mau, ibunya harus bekerja keras demi kehidupan mereka dan harus tabah akan cacian-cacian serta dendam yang mendalam dari Nada.
“Nada, shalat yuk Nad. Yuk kita doakan ayah agar beliau diterima disisi Allah,” Ajak ibunya kepada Nada yang sangat jarang shalat.
“Ah!! Males!” jawab Nada ringan.
“Tapi Nad..,” ujar ibunya lagi yang belum siap dilontarkan.
“Eh, lu tau gak sih.. shalat buat apa?? Buat kaya?? Nggak tuh. Lu yang udah shalat aja gak kaya-kaya kan. Buat sehat?? Lu aja sakit-sakitan. Hmm.. atau untuk nebus dosa lu yang udah bunuh ayah?? Nggak akan bisa. Lu tetap sebagai pembunuh!!” jawab keras Nada yang langsung bercerocos ria kepada ibunya.
“Nak, kita shalat untuk Allah nak. Untuk mendapatkan surga! Apa kamu tak mau masuk surge?” ucap ibu sambil memperjelas.
“Gue gak penting masuk surga atau neraka. Gue kan cantik! Pasti aja gua
masuk surga. Lagian, ngapain sih lu kayak gituan?! Kayak guru agama aja lu. Ceramah mulu. Sekalian jadi ustadzah sono gih. Haha” cemeehnya kasar.
“Yaudah lah nak, kalau itu mau kamu. Setidaknya ibu sudah kasih tahu kamu” ujar ibunya yang tampak pasrah.
“Idih.. jangan kebanyakan ceramah deh lu. Shalat sono gih. Terus doain gua dapat laki kaya biar lu juga kaya” ucap Nada dengan suaranya yang sangat kasar.
Si ibupun shalat dengan khusuknya. Sedikit demi sedikit, keluarlah tetesan air mata dari mata indah sang ibu. Sang ibu yang telah melahirkan anaknya dengan penuh perjuangan, sang ibu yang sangat menyayangi serta mengasihi anaknya dengan tulus, berusaha keras demi kebahagiaan anak yang sangat dicintainya serta sang ibu yang selalu disakiti oleh anak yang tak tahu balas budi seperti Nada Vitya Nagista. Ibupun telah siap shalat. Lalu ibu segera menampungkan tanganya dan berdoa kepada Allah di dalam hatinya.
“Ya Allah! Lindungilah suami hamba dan izinkanlah dia berada di sisimu Ya Allah. Berikanlah beliau di tempat yang indah, serta terimalah semua amal ibadahnya ya Allah. Ya Allah yang maha pemaaf, hamba mohon, hamba mohon, hamba mohon dengan sangat ya Allah! Maafkanlah kesalahan anak hamba ya Allah. Hamba tau dia sedang galau ya Allah. Oleh karena itu, hamba mohon kepadamu ya Allah. Bukakanlah pintu hatinya, tunjukilah dia jalan yang lurus. Arahkanlah dia ke jalan yang engkau ridhoi ya Allah. Ya Allah!! Hanya pada Mulah aku menyembah, dan hanya pada Mulah aku minta pertolongan. Kabulkan doa hamba ya Allah. Amin”
Begitulah sepotong doa yang dipanjatkan oleh sang ibu yang berharap anaknya berubah dan kembali seperti sedia kala.
Suatu ketika, Nada berjalan-jalan mengelilingi hutan yang berada di desanya. Entah mengapa dia ingin berjalan-jalan, berbeda sekali dengan dia yang sangat pemalas berjalan di hutan yang katanya “tidak selevel”. Dengan alasan menghirup udara segar, dia berangkat menuju hutan. Di tatapnya lekat-lekat hutan yang di pandangnya.
“Hmm.. kok gua bisa tinggal di desa ini ya? Kenapa gue gak bisa kaya? Kan gua cantik.. kenapa gak ada orang kaya yang pengen ngelamar gue? Gue mana pengen miskin mulu. Apalagi tinggal satu Prumah dengan pembunuh?? Gue pengen kaya!! Gue gak pengen tinggal di desa alyas hutan ini”
Begitulah ucapnya dalam hati. Tapi, gerutunya berhenti setelah melihat seorang pemburu yang sangat tampan, bersih yang tampangnya lumayan dan kelihatannya sangat kaya.
“Duh!!” teriak pria tampan itu.
“Ada apa tuan?” Tanya seorang pria tua yang berada di sebelahnya.
“Kaki ku menginjak paku.. sakit!!”, Jawab pria tampan itu.
Mendengar teriakan itupun, Nada mendekati pria itu dan segera bertanya.
“Ada apa? Apa ada yang bisa saya bantu?” Ucap Nada dengan tampang polos yang tampaknya dibuat-buat demi mengambil hati pria tampan itu.
“Ya. Bisakah anda menolong tuan muda? Secara tak sengaja, dia menginjaka paku yang sekarang sedang menancap di kakinya ini. Saya mohon bantuan anda pada saat ini.” Jawab pria tua itu.
“Berapapun akan saya bayar asalkan anda ingin menolong kaki saya!” Lanjut lengkap pria tampan itu.
Tanpa fikir panjang lagi, Nada dan pria tua itu menolong pria tampan itu berjalan menuju gubuk kumuh milik Nada. Nada mendudukan pria itu diatas kursi bambu yang sangat tidak empuk.
“Duduklah di sini. Tunggu sebentar ya!?” ucap Nada lembut dan kedua pria itu mengangguk mantap.
Nadapun segera masuk ke dalam rumahnya dan segera memanggil ibunya.
“Nyaak!! Ada orang luka nih. Bantuin gue gih!” jawab Nada kepada ibunya.
“Luka?? Dimana Nad?” Tanya ibunya yang tampak cemas.
“Udah! kata gua cepatan. Jangan kebanyakan bacot lu!” jawab Nada
Merekapun berjalan menuju pria tampan yang dengan terluka itu. Darah pria itu semakin banyak bercucuran. Pria itu tampaknya agak sedikit manja dan baru sekali masuk hutan. Sebab, tak ada orang yang tak menggunakan alas kaki bila ingin memasuki hutan kecuali pria itu. Dan saat kakinya terluka, tampaknya dia ingin nangis. Ibu dan Nadapun datang dengan membawa beberapa obat-obatan yang mereka miliki.
“Aduh… aduh… sakit!!!!” teriak pria tampan itu saat ibu meneteskan betadine kepadanya.
“Sabar, nak!! Jangan berteriak. Bila kamu teriak, maka sakit yang kamu rasakan akan semakin perih!” jawab ibu dengan suara yang sangat lembut dan bijaksana.
Sejenak, pria tampan itu terdiam. Dia sangat salut terhadap sosok ibu. Dengan kemahirannya, ibupun telah selesai mengobati kaki pria tampan itu.
“Terima kasih ya bu dan…” Ucap pria tampan itu yang terhenti karena tak tahu nama Nada.
“Nada Vitya Nagista. Sebut saja Nada” jawab Nada sambil mengulurkan tangannya kepada pria tampan itu.
“Dinno Cemion Gyophelar, panggila saja Dinno” ucapnya lagi sambil menjabat tangan Nada.
Mereka berempat pun berbincang-bincang hangat. Di tengah-tengah percakapan, Dinno bertanya kepada ibu.
“Jadi, Nada ini anak ibu? Wah!! Cantik sekali anak ibu!” puji Dinno.
“Iya Din, Nada anak kandung ibu.” Jawab ibu dengan wajah senyum yang tampak dibuat-buat.
“Hm.. beruntung banget yang kamu punya ibu seperti tante Fia ya Nad” ucap Dinno kepada Nada.
“Sangat beruntung. Sulit mencari ibu lain yang lebih baik dari ibu. Iya kan bu?” tegur Nada yang tampaknya mengucapkan kata yang tak sesuai dengan hatinya.
Sangat beruntung?? Apa benar Nada sengat beruntung?? Tidak! Nada tak pernah merasa beruntung mempunyai ibu seperti mamanya. Dia hanya menganggap mamanya sebagai wanita tua yang lemah yang hanya pandai membunuh. Dia berpura-pura baik demi mendapatkan hati Dinno. Bagaimana tidak?! Dinno adalah pria kaya, tampan dan segalanya bagi Nada. Mau tak mau, dia harus baik kepada ibunya agar Dinno menyangka Nada adalah anak yang baik sehingga Dinno bisa menyukai Nada.
“Ibu, Dinno mohon pamit dulu ya. Udah sore. Yuk bu! Yuk Nad!”, Senyum ramah Dinno pada ibu dan Nada.
Akhirnya dinno dan penjaganyapun pulang. Nada tampak sangat senang. Dia tertawa seperti orang sedang jatuh cinta.
“Nad, sepertinya dia pria kaya ya” ujar ibu pada Nada.
“Udah tau dia kaya, lu nanya juga ke gue. Gak dengar apa lu dia bilang kalo dia tu anak pengusaha terkenal. Ya iyalah dia kaya! Bego banget lu ya. Dasar orang tua. Hmm.. ntar kalo gue udah nikah sama dia, gue bakal jadi orang kaya. Gue bakal punya rumah gede, mobil mewah. dan yang paling penting, gue nggak bakal ngajak lu datang ke rumah baru gue.! Ah.. udah deh.. gue mau mandi biar gak bau kayak lu. Minggir sono gih.” Ucap Nada sambil medorong ibu nya sendiri hingga terjatuh. Sungguh anak durhaka dan anak biadap.
Besoknya, Dinno datang untuk bertemu dengan Nada. Mereka berbincang-bincang. Seperti itulah yang terjadi satu minggu belakangan ini. Dinno selalu datang ke rumah Nada. Pada suatu ketika, Dinno mengajak Nada untuk berbelanja di kota. Untuk anak matre seperti Nada, tak ada kata tidak untuk sebuah penawaran. Merekapun ke kota atas izin ibu yang dipaksa terlebih dahulu oleh Nada. Mereka perbelanja ini, itu. lebih dari 5 bungkus besar yang berada di genggaman Nada. Sepertinya dia sangat menikmati belanja nya pada saat ini. Berbeda sekali dengan belanjaannya bila di desa tempat dia tinggal. Palingan hanya karung kecil yang berisi bawang merah dan bawang putih yang jumlahnya sangat sedikit. Mungkin dapat diperumpamakan 1.000 kali lipat dengan belanjaannya di desa.
Mereka berdua melewati toko emas. Mata Nada tertuju ke kalung indah yang di pajang di etalase toko itu. Dinno memperhatikan Nada yang tampaknya ingin membeli kalung indah itu.
“Wah! Kayaknya kalung itu cocok untuk mu Nad. Apa kamu mau?” Tanya Dinno.
“Hmmm” jawab Nada ragu.
“Oke lah! Yuk kita beli” jawab Dinno dengan ringannya.
Merekapun masuk ke toko itu. Emas indah terpampang di mana-mana. Pemandangan itu memikat mata Nada. Maklumlah. Orang yang satu ini sangat ingin sekali atau tepatnya tergila-gila untuk menjadi orang kaya. Akhirnya, Nada mendapatkan kalung emas yang berbentuk love itu. harganya bukan main mahalnya. Rp. 5.000.000,- harganya. Nada langung tertawa senang dan menggunakan kalung itu. Dinno sama sekali tidak merasa terbebani. Tentu saja karena dia telah mencintai Nada.
Merekapun pulang setelah 8 jam lebih mereka berbelanja. Dinno mengantarkan Nada ke gubuk kecilnya dan pulang dengan segera. Tiba-tiba, nada tampak kaget yang melihat ibunya telah tewas yang tampaknya di bunuh oleh seseorang. Sebab, Nada menatap pisau yang menancap di perut ibunya. Dia kaget bukan karena sedih, tapi karena senang. Kenapa? Sebab pembunuh bayaran yang dibayarnya dengan uang yang di dapatkannya dari Dinno telah berhasil membunuh ibunya yang dianggapnya telah mengganggu hidupnya. Andai saja Dinno tahu siapa pembunuh ibu yang sebenarnya, tak aka nada kata maaf untuk anak biadap seperti Nada.
Besoknya, dengan air mata buayanya dia dan orang sekampung menguburkan jasad ibunya yang suah tak benyawa lagi. Melihat Nada yang akan hidup sebatang kara, Dinno mengajaknya untuk tinggal dirumah istana milik Dinno. Tampa pikir panjang, dia menerima tawaran Dinno dan merekapun menikah.
5 tahun setelah kejadian itu, Nada merasa sangat aneh. Dia merasakan hal yang sangat berbeda. Tiba-tiba dia mempunyai perasaan yang tidak enak. Sebab, selama 3 hari berturut-turut dia memimpikan ibunya. Tapi, dia tidak tampak merindukan ibunya ataupun merasa bersalah pada ibunya. Sebab. Dia beranggapan seorang pembunuh harus mati dangan cara dibunuh pula.
Nadapun mencoba menghibur dirinya dengan pergi ke suatu tempat. Mall!! Itulah tempat yang dapat membantunya. Tapi, saat dia pergi menuju Mmall, rem mobil yang di gunakannya blong. Saat berada di penurunan, Nada tak dapat mengendalikan mobil yang di kenakannya. Mobil itu akhirnya masuk jurang dan hancur, begitupun pengemudinya tewas seketika dengan keadaan yang menggenaskan.
Nadapun dikuburkan dikuburan yang tak jauh dari kuburan ibunya. Tapi, anehnya setiap jam 12 malam, selalu terdengar tangisan seorang wanita yang keluar dari nisannya sambil mengatakan,
“Bu, maafkan saya bu! Maafkan saya bu”
Mungkin itu adalah suara tangisan anak durhaka seperti Nada. Tapi apa daya, waktu tak bisa diulang. Kata maaf tak mungkin lagi dapat terucap. Sekarang yang ada hanya penyesalan dan nisan menangis itulah yang menjadi bukti penyesalannya.
“Bu, maafkan saya bu! Maafkan saya Bu”
“Bu, maafkan saya bu! Maafkan saya Bu”
Itulah akhir hidup yang sangat memilukan dari seorang gadis cantik bernama Nada Vitya Nagista, dengan nisan yang bertuliskan namanya. Misteri Nisan Menangis..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar